Jas Hujan

Waktu gue mau pulang dari kampus, kira-kira jam 2 siang. Gue lihat keadaan cuaca dulu sebelum berangkat. Soalnya, khawatir juga kalau ‘si montok’, kuda besi kebanggaan gue kehujanan dan pasti kotor karena becek di jalanan. Belum lagi kalau gue kehujanan pasti badan gue langsung meriang. Langit sebelah barat masih ‘sedikit’ ketutupan awan tipis, tapi arah timur sudah cukup gelap awannya. (sekadar info, ‘si montok’ adalah akronim yang artinya ‘si motor anto keren’ :D)

“Padahal masih jam 2 siang, tapi langit udah gelap banget di arah timur.” Kata gue dalam hati.

Sekejap, gue pernah dengar pepatah yang berbunyi ‘Sedia payung sebelum hujan.’ Gue cek tas, ternyata ga ada payung. Gue cek nomor telpon temen yang nge-kost di daerah kampus gue. Kali aja punya payung buat gue pinjem sebentar pulang. Beruntungnya gue menemukan temen kuliah yang masih punya hati meminjamkan payung buat temennya yang ga ganteng ini.

Namanya Eka, perempuan montok yang makanan sehari-harinya, pur ayam campur dedek sama sedikit keong mas. Badannya cukup besar dan sedikit berlemak pada bagian paha, pinggang, pundak, dan pipi. Tapi, gue tetap paling bangga punya temen kayak dia. Soalnya dia ga lebih tinggi dari pohon bonsai. Kalau gue ketemu dia, selalu gue jadiin samsak atau gue siram dia supaya tumbuh ke atas, bukan ke samping. #okeSkip secepat kilat gue sms dia.

“Ka, gue pnjm pyg blh g bwt plang? Soal’a mw ujan ni, Klw blh gue ke kosan lu skrg ya? BLSGPL!!” Itu pesan singkat gue ke Eka.

“Lu mau make payung gue buat plang? Emang mau nutup portal mana? Emang cukup?” Balas Eka.

“Plang? T_T bukan PALANG kyk lu mksd, tapi PULANG sapi glonggongan!” Gue sedikit kesel sama proses dia mengerti keadaan yang sebentar lagi mau hujan ini.

“Trus mau buat apa payung gue?” Dia nanya lagi dengan pertanyaan yang udah ada jawabannya.

“YA BUAT PULANG BIAR GA KEUJANAN, ALAT PEMBAJAK SAWAH TRADISIONAL.” Gue kesel se keselnya Adolf Hitler waktu kumisnya dicukur.

“Lu kan pulangnya naik motor, kenapa pake payung, kuda? Pake jas ujan lah. Dodol banget sih lu.” Balas eka dengan santai.

*Jleb* Iya juga ya? Kenapa ga kepikiran sama gue ya? Kok tiba-tiba semua serba abu-abu ya? Siapa gue? Tiba-tiba segala macam kebodohan yang pernah gue lakukan selama ini muncul. Tapi yang paling fatal adalah ini. Gue ngehina orang yang menyadarkan gue, buat pake jas ujan, karena gue pake motor. Kebayang kalau pake payung pasti gue terbang kebawa angin pas naik motor.

“Hehehe” Gue balas pesan yang dia kirim tadi.

“Napa lu ketawa? Kalau mau gila jangan kuliah dulu, tar orang-orang di sekitar lu pada kabur dan ga mau jadi pacar lu lagi.” *JLEB JLEB* SMS Eka yang terakhir ini membuyarkan senyum gue yang kepikiran bahwa bodohnya gue ga sebanding dengan penderitaan gue sebagai jomblo.

“Iya deh iya. Maaf ya kalau gitu udah ngatain lu sapi glonggongan, padahal bener, ga jadi deh kalau gitu. Hehe, makasih ya? :D” Dengan segala kesakitan hati dari SMS Eka yang terakhir, gue tutup dan ga akan gue liat SMS jahanam itu.

Setelah gue mengakhiri pembicaraan yang membuat hati gue tercabik-cabik, gue langsung buka jok motor gue. Pandangan gue nanar melihat kenyataan yang ada. Dihadapan gue sekarang teronggok sebuah jas hujan tipe kelelawar. Ya, tipe jas hujan yang kalau kita bawa motor sedikit kenceng jadi berkobar-kobar layaknya sang sakakala dan jas ini termasuk yang amat sangat gue benci. Kenapa gue benci dengan jas hujan tipe kelelawar ini? Bukan bukan, gue ga suka bukan benci, karena kalau dibawa cepet sedikit terus berkibar-kibar udah kayak jubah supermen. Tapi lebih ke pengalaman gue yang sangat memilukan.

Waktu itu gue masih inget, pas gue lagi pulang ke rumah dari pasar dan gue pake jas hujan ‘supermen’ ini, masih belum mengalami kejadian yang akan terjadi. Gue pake jas hujan ini dan segera meluncur pulang. Tapi di tengah jalan gue baru inget kalau disuruh buat mampir dulu ke supermarket yang selalu ada di dalam Bogor Trade Mall buat beli sesuatu, (“sesuatu” di sini tidak ada hubungannya dengan apa didapat wanita setiap bulan). Setelah gue sampai di TKP, kebetulan hujan cukup deras, gue buka jas hujan itu di parkiran. Tanpa berpikir panjang karena takut ketinggalan film Naruto (apa? Gini-gini juga gue masih suka kartun karena jalan ceritanya yang terlalu berfantasi dan kekanak-kanakan, bukan karena hiburannya atau idola dan sebagainya.) (lho??)

Gue jalan dari parkiran sampe depan pintu gerbang supermarket dan di sepanjang jalan ada perasaan aneh yang gue rasakan. Seolah-olah ada mata yang sedang memerhatikan gue (ceritanya mulai tegang). *dag-dig-dug* hati gue berdetak merasakan hal yang belum pernah gue rasakan sebelumnya, apa ini yang dinamakan cinta? (ini cerita apaan? Kenapa ngelantur). Setelah sekian lama gue merasakan kegundahan hati yang dari tadi gue rasakan. Akhirnya gue putuskan untuk diam sejenak dan memerhatikan sekitar. Setelah gue perhatikan sekitar dan alangkah terkejutnya gue pas melihat ke belakang. TERNYATA ADA TALI RAPIA YANG NEMPEL DI CELANA BAGIAN BAWAH GUE YANG GA GUE SADARI NYANGKUT PAS DI JALAN KARENA BANJIR DAN JAS HUJAN JAHANAM YANG GUE PAKAI TIDAK MENUTUPI BAGIAN BAWAH KAKI GUE. FFFFFAAAAKKKKK….!!!!!!!

Pantas saja dari tadi gue merasakan banyak yang memerhatikan karena hal ini dan yang memerhatikan adalah pedagang-pedagang yang berjualan di sepanjang jalan dari parkiran sampai supermarket. Dengan langkah kilat gue masuk penjara (eh maksudnya toilet) gue beres-beres segala hal yang membuat gue jadi Trend “memalukan” Center dari parkiran sampai supermarket.

“Sial, gara-gara jas hujan ‘supermen’ itu, kaki gue bagian bawah jadi ga ketutupan dan mampu menggaet TALI RAPIA. Akan ku balas kau nanti wahai jas hujan ‘supermen’.”

Setelah selesai beres-beres dan membeli barang pesanan orang rumah, gue pulang dan melancarkan pembalasan dendam gue ke jas hujan itu. Lalu yang gue lakukan pada jas hujan itu adalah tidak memakainya saat pulang meskipun masih hujan deras. Alhasil, segala yang gue pakai di badan basah dan keesokan harinya gue meriang 2 hari 1 minggu, 2 hari panas dingin 1 minggu pilek-pilek. Setelah kejadian itu, gue beli jas hujan tipe celana dan badan. Pembalasan dendam gue terbayarkan dan gue hidup dengan bahagia selamanya bersama jas hujan celana badan.

Salam ganteng 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*