Puisi Karya Sabila J. Firda & Shafira Linda Rahmani

MENARA DI PELUPUK DESA

Karya : Sabila J. Firda

 

Dari harapan besar para penutur ilmu, tentang firman dan sabda.

Berdiri kokoh di antara rumah penduduk desa.

Lima kali sehari menghaturkan panggilan illahi.

Terhitung banyak yang mendengar.

Tetapi hanya kaki-kaki ringan yang akhirnya mendatangi.

 

Di ujung iqomah, tampak kesungguhan berlabuh.

Di bawah kekar sang menara.

Para kekasih pemilik alam menghadiri undangan.

Senyum tulus dari para penikmat ibadah.

Menjadi hiasan paling elok di bawah kaki menara.

 

Jika ibadah adalah rahmat.

Beruntunglah orang-orang yang mendapat rahmat.

Menatap menara masjid setiap waktu.

Lalu mendirikan sholat berjamaah.

 

Desa sedamai ini.

Menjadi lebih sejuk di musim kemarau.

Tentu karena kearifan penghuninya.

Ditambah beragam kegiatan ibadah dan agama.

Santun penduduk desa berdampingan, mengelilingi menara

 

Semoga sang menara selalu mengerti.

Ketika sebagian umat mengacuhkan seruan.

Masih ada umat yang bersedia merendahkan diri di hadapan sang Pencipta.

 

Di bawah menara, pelantun doa memanjatkan harapan tertingginya.

Menengadah penuh harap kepada pemilik semesta.

Harapan yang lebih tinggi dari menara.

 

Gema murrotal dan adzan dari pengeras di ujung menara.

Sebagai penghubung muadzin dengan telinga umat.

Pendengaran telinga yang menjalar sampai hati.

 

Menjadi pertanda, bahwa agama hidup bahagia di desa kami.

 

ANDAI HUJAN DAN SENJA

Karya : Sabila J. Firda

 

Andai alirannya bicara tentang rasa..

Melebur logika yang ada..

Mungkinkah kamu berpikir untuk menyentuh dinginnya sekali lagi?

 

Andai derasnya adalah guyuran cintaku yang meradang akan kamu..

Apakah kamu masih mampu berjalan di antara hujan tanpa payung?

 

Lihatlah aku..

Betapa aku masih menyelami ruang di dasar hujan, membawa namamu..

Memapar pilunya hatiku yang menyeruak sendu, menepis perih..

 

Semoga hujan tak menghapus jejakku yang pernah menemanimu..

 

Juga andai senja mengerti..

Pernahkah kamu coba ajak bicara, ramuan penghabisan siang menuju malam itu?

Mungkihkah ia mendasari ragumu?

Menorehkan bayangan rupa sakit..

 

Andai pula senja itu menyadari..

Akulah perempuan yang terlempar, usai menegak racun manis cintamu..

Apa kamu akan cukup hebat bersembunyi di balik gelap yang menghampiri usai senja?

 

Semoga senja tak menyamarkan wajahku di balik warna semunya..

 

Dari aku,

Perempuan yang kamu tinggalkan di bawah arus hujan,

Dan di sela bayang-bayang senja.

 

BERITA KEMATIAN

Karya : Sabila J. Firda

 

Jika tiba saatnya namaku yang terdengar dari pengeras suara masjid

Namaku, menyebar hari itu pada telinga para kerabat

Betapa mereka semua menyebut namaku

Menyebar luaskan tentang kematianku

 

Seisi rumah berkabung

Tangis pecah mewarnai tempat-tempat yang biasa aku singgahi

Sebagian kerabat menyiapkan pemakamanku

Sebagian lagi mengurus jenazahku

Mereka memberikan gaun putih untuk kukenakan di pembaringan terakhir

Dan mengantarkanku ke dalam liang lahat

Sebuah persembahan dari mereka, untukku

 

Mungkin tidak sampai sehari namaku beredar kencang

Menjadi topik hangat tetangga, kerabat dan sanak saudara

Paling lama hanya beberapa hari

Entah mereka akan mengenangku atau tidak

Yang pasti mereka akan kembali sibuk dengan urusannya masing-masing

Kemudian berlalu tentangku

Tentangku yang pernah ada di antara mereka

Dan pernah menjadi bagian dari alasan kebahagiaan mereka

Hari itu berhenti

Hilang

 

Lalu bagaimana denganku di alam lain?

Apa aku akan baik-baik saja?

Apakah di sana begitu gelap?

Siapa yang menemaniku

Bagaimana rasanya?

Aku dibawa kemana?

Serta ribuan pertanyaan-pertanyaan lain menyerangku

 

Akhir hayat adalah takdir Allah

Sekaligus pintu jawaban

Sepanjang usia yang aku lalui

Pasti aku temukan jawaban dari perbuatan semasa hidupku

 

Menuju pesakitan atau kemuliaan abadi.

Merindu Lima Sila

Karya : Shafira Linda Rahmani

 

Kutonton, Kubaca:

Televisi, Surat Kabar, dan Situs ini itu

 

 

Rindu

 

Lihat gelombang monoton itu—

dinamika itu sedang mampus.

 

Berjalan ke utara, Teluk Jakarta yang tidak lagi sama

Bagaimana dengan selatan?

Kota Hujan yang sesak dengan kendara

 

Apa itu damai?

Jika SARA dipertanyakan,

diperolok-olok bagai sampah berserakan

 

Rinduku menggedor-gedor

‘kibat cingur-cingur manusia saling jedor-jedor

Selongsongnya berlabuh di Kantor

 

Pancasilaku, ada dimana?

 

***

BIODATA PENULIS

Isma Sabila Jannatul Firda lahir di Nganjuk, 02 Agustus 1994. Sabila menamatkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen, UN PGRI Kediri. Sabila bergabung di komunitas seni dan kepenulisan, diantaranya Teater Gaman, Rumeo dan Simfoni Aksara. Bagi Sabila, hidup ini adalah bersyukur dan memberi. Kini Sabila bertekad terjun dalam dunia kepenulisan menjadi seorang full-time writer, sembari terus memperdalam ilmunya. Ia telah menulis novel berjudul Bakir. Selain itu juga ia menulis beberapa buku antologi puisi dan cerpen. Sabila dapat dihubungi di

  • HP/WA : 085853431911
  • Instagram : sabila_jfirda
  • Facebook : Isma Sabila J Firda
  • Email : sabilajfirda@gmail.com

***

 

Doc. Shafira Linda Rahmani

Nama : Shafira Linda Rahmani/Fira

Email : shafiralinda7@gmail.com

Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 7 September 1996

 

 

Pendidikan : S1 Sastra Inggris, Universitas Indonesia

Komunitas : BBB (Bikin Buku Bareng)

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*