Cerpen “Kamasutra Politik” Karya Fery Yuliansyah

Kamasutra Politik

Oleh Fery Yuliansyah

 

“Siapa anda?  Berani  sekali menentang keinginan saya?”

“Hanya seekor keledai busuk yang hanya bisa di hina tanpa membalas.”

“Apakah saya terlihat dan terdengar seperti sedang menghina anda?”

“Kau seperti seekor kucing yang berlagak seperti singa.”

Keributan semakin terpecah kala seorang jumawa memerintahkah aliansinya untuk menghancurkan kemerdekaan bangsa demi maraup keuntungan. Mengorbankan aliansinya agar dapat dipandang sebagai pahlawan, itu semua hanya untuk mendapat kepercayaan dalam bingkai kebohongan.

Juned adalah orang yang tidak mau dibilang seorang aktivis, tidak juga seorang analitis, dia hanya berusaha bersikap kritis untuk permasalahan yang membuat krisis bangsa yang eksotis. Berpadu dengan sebatang rokok cipataan maestro tembakau cap 234, dia hidup begitu miskin harta namun kaya dengan ilmu pasti.

“Jangan sampai anda mati karena argumentasi yang anda tuduhkan.”

“Saya tidak pernah takut mati jika itu memang perlu. Saya hanya takut jika saya harus terus-menerus tenggelam pada kemunafikan tanpa ada yang meluruskan.” Juned semakin tenggelam pada amarahnya yang mengebu-gebu.

“Jangan pernah berkata sesuatu hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan wahai engkau manusia.” Sambil sedikit menaikan alis sebelah kiri untuk menandakan bahwa dia perlu bukti untuk sebuah pernyataan.

“Aku memang manusia, sedangkan engkau adalah iblis yang dirasuki oleh manusia dengan kemunafikan yang semakin samar.” Juned masih melukiskan perkataannya pada sebuah otak manusia terhormat.

“Atas dasar apa anda menyebut-nyebut mengenai kemunafikan. Anda tidak punya bukti dalam membicarakan hal yang menyangkut iblis pada diriku.” Tegas pria terhormat dengan dasi yang menempel pada lehernya.

“Bukan tidak ada bukti. Tapi anda terlalu sempurna untuk menjalankan prosedur ini.”

“Apakah anda tau, saya tidak pernah membunuh satu orang pun di dunia ini. Jadi dari sudut manakah anda menuduh saya sebagai iblis?”

“Memang benar anda tidak membunuh manusia satu orang pun, karena anda adalah iblis. Yang membunuh adalah manusia itu sendiri, sejatinya manusialah yang dapat membunuh manusia lain. Bukan iblis.” Juned mempertegas suaranya agar pria berbadan buntal itu mengerti apa yang ia maksud.

“Hentikan argumen anda, atau terpaksa saya yang harus menghentikan nafas anda.” Pria terhormat yang mulai terpancing emosi karena pernyataan tegas dari seorang Juned.

Seorang pun tidak ada yang dapat percaya bahwa seorang yang amat dihormati membunuh rakyat kecil di era modern ini. Tapi perlu kita ketahui bahwa orang yang sejatinya mempunyai wewenang, dapat dengan mudah membunuh secara perlahan dan menyakitkan tanpa harus mengotori tangannya.

Mereka menghisap sari-sari dalam tubuh manusia itu dan menghadirkan kebahagian yang fana. Memperkosa kata demi kata untuk dilafalkan pada rakyat jelata dan membuat sebuah perjanjian yang kelak akan diingkarinya.

“Struktur yang anda mainkan memang terorganisir, namun anda tidak mungkin melakukan hal bodoh sampai membodohi orang yang mempunyai idealisme oleh bawaan hati nurani mereka. Bukan orang yang hanya menentang anda demi meraup nominal dari lawan anda.”

“Berhentilah anda membuat saya tersanjung. Jika saya mau, saya cukup menggerakan jari sakti ini untuk membunuh langkah anda kepada para pengikutku.”

“Jika sudah menyangkut pengikut, memang andalah orang yang terdepan. Saya hanyalah seorang gembala yang berusaha jujur untuk majikannya.”

“Baiklah sekarang lebih baik anda pulang ke rumah. Persiapkan massa untuk menjatuhkanku. Itupun jika ada yang bersedia ikut bersama anda.”

Sambil keluar, Juned menggumam “Hm… Saya kira untuk menjatuhkan anda, saya hanya perlu mebinasakan iblis dalam diri anda. Tapi sepertinya itu mustahil, karena iblis sudah mendarah daging dengan anda.”

Juned kembali menyusuri jalan-jalan protokol dengan muka kusut dan baju yang lusut. Harta paling utama bagi dia adalah idealismenya. Baginya idealisme yang  ia miliki adalah sebuah jait diri manusia itu sendiri.

Malam semakin larut, ia terus berjalan menuju pinggiran kota metropolitan, kota yang gemerlap seperti sebuah intan yang pudar oleh sebuah polutan sehingga terlihat sang sultan tengah kesulitan menahan kesakitan. Ia berjalan menuju rumah yang berukuran 12×10 dengan lapisan kayu yang berongga. Seekor kucing liar diadopsi guna menemaninya kala suntuk. Baginya manusia lebih rendah daripada kucing sekalipun. Juned terus menerus merenungkan tentang idealismenya yang tidak mendasar tapi memujanya karena di sana dia dapat mengetahui arti kehidupan manusia.

 “Juned! Juned! keluar kau bajingan tengik.” Suara gemuruh dari luar rumah juned membuatnya terbangun.

 “Ada apa ini?” Tegas juned yang masih setengah sadar.

 “Kau jangan berpura-pura lagi. Mengapa kau menyerang pemimpin kami.”

“Apa maksud kalian itu seorang yang duduk di kursi hangat sambil menunggu amnesti dari kalian untuk membuat dirinya lebih jumawa?”

 “Kenapa kamu berbicara seolah kaulah orang yang paling benar Juned!”

“Aku bukanlah orang yang paling benar, tapi aku selalu berusaha untuk menjadi orang benar.”

“Sudah tutup mulutmu, dia telah menyisipkan waktunya untuk berknjung ke tempat kumuh ini dan mendengar curahan hati kami. Itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa dia adalah dewa penolong kita.”

“Kalian memang manusia suci, bahkan terlalu suci untuk dibodohi oleh iblis yang menyerupai manusia dengan imingan janji. Jika begitu, sepertinya dewa dilarang masuk ke daerah sini.”

 “Banyak bicara kau Juned.”

Warga akhirnya menghakimi Juned tanpa belas kasih. Juned yang sedari awal tidak mau jika idelismenya terhambat karena kemunafikan, memutuskan untuk pasrah pada apa yang terjadi. Warga terlalu geram terhadap Juned karena media memberitakan bahwa Juned telah menghakimi seorang elit politis yang sangat di hormati oleh masyarakat secara membabi buta di rumah elit politik itu sendiri.

Seakan tidak mau jika polisi ikut campur pada permasalah ini sehingga masyarakatlah yang maju untuk menghakimi Juned. Warga merasa terlalu lama menunggu hingga polisi datang. Ketika politisi yang Juned sambangi sudah duduk manis di kursi panas dengan suara yang mengungguli lawannya pada pemilu kemarin. Sejak saat itu hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, namun pada kenyataanya tidak ada janji yang telah direalisasikan oleh elit politis tersebut hingga warga marah dan turun aksi ke jalan. Namun sepertinya sambutan dari aparat berbeda dengan apa yang ada dalam benak mereka, yang pada akhirnya mereka hanya dapat meyesali kesalahan karena telah percaya pada elit politik tersebut.

Seorang kakek tua tampak masih berdiri di hadapan para aparat. Dia membawa sebuah biola dan melantunkan lagu nasional Indonesia Raya ciptaan W.R Soepratman serta Gugur Bunga karya Ismail Marzuki. Setelah selesai melantunkan melodi indah dari biolanya, tampak lelaki tua itu bersimbah darah dari sekujur tubuhnya. Tidak ada aparat keamanan maupun massa yang menyentuh lelaki tua rentan itu untuk membantunya, mereka hanya melihat detik-detik berhentinya nafas si lelaki tua itu. Sebuah lubang tepat pada dadanya tertutup oleh kain putih yang berubah menjadi merah karena simbahan darah terus mengalir bagaikan air terjun.

***

Bogor, 20 November 2016

 

Identitas Penulis 

Nama : Fery Yuliansyah Hidayat

Tempat, Tanggal lahir : Lebak, 2 Juli 1995

Alamat : Jalan Sunan Giri No. 56 Rangkasbitung, Lebak-Banten

Alamat Email : feryoyzm@gmail.com

Alamat Wabsite : sastrakarsa.blogspot.com

No. Telp : 089643848611

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*