Cerpen Sepasang Waktu Karya Divia “VeliaRis” Uzukriyah-

Sepasang Waktu

Sajak panjang yang tak berkesudahan

 

Napas sesak penuh tanya

Mata nanar penuh ingatan

Sorot hampa penuh keraguan

Hadir gamang penuh kebimbangan

Masihkan bisa bersama?

 

Ada malam-malam penuh harap

Namun tak kunjung jua kita bertatap

Ada malam-malam penuh doa dan sajak

Namun tak kunjung juga hati kita beranjak

 

Apakah “rasa” bersalah?

Bilamana ia tak memiliki arah?

Apakah “resah” serakah?

Bilamana takdir tak kunjung mengarah?

 

Semakin terkenang, semakin tak usai merindukan

 

Tahun ini usiaku menginjak dua puluh empat tahun, bukan usia yang remaja lagi. Dengan segala hal yang kumiliki, rasanya patut banyak bersyukur. Usia dua puluh dua tahun, aku menuntaskan strata satu predikat dengan pujian. Beberapa hari berselang kudapatkan pekerjaan di tempat yang sepadan. Setahun kemudian, tepat di usia dua puluh tiga, aku melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Semua tampak tertata, rapi sempurna. Segala yang kuhendaki seperti magis yang menjadi nyata.

Hari-hariku penuh dengan kesenangan. Pekerjaan, kenyamanan, pendapatan, bahkan pendidikan. Layaknya seperti putri raja yang dengan mantap anggun melangkah. Tapi cerita ini bukan tentang kesenangan semata.

Semua orang boleh bermimpi

Mungkin itulah mengapa aku terus bermimpi.

Bagai segitiga sama sisi; pendidikan, karier, dan cinta mestilah berjalan beriringin. Cacat di satu sisi, bisa jadi menghambat segalanya. Tak lagi sem-pur-na.

Untuk mendapatkan sesuatu kita memang harus kehilangan banyak hal. Mungkin itulah bayaran yang sepadan demi sebuah keberhasilan.

Aku berani membuka hati setelah malam-malam mencekam tempo hari. Lelaki bertatapan teduh dengan senyum merekah di bibirnya. Apakah aku cinta? Entahlah…

Menurutmu apa definisi cinta?

Dua sosok yang menyemai kenyamanan musabab seringnya bertemu? Atau sepasang insan yang memiliki harap seirama diikat dengan keyakinan?

Ah! Bagiku tak berlaku. Tak ada pertemuan sebelumnya. Tak ada bicara panjang lebar hingga menimbulkan kenyaman. Tak ada ikatan untuk percaya dan menyuguhkan harap.

Hanya ada aku yang diam-diam meletakkan namanya di atas sajadah panjang.

Gila! Bertemu saja belum kau sudah bilang cinta?

Loh? Apa salahnya? Bukankah selain doa, cinta adalah zat yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu? Bahkan untuk dua pasang mata yang belum bertemu. Bilamana cinta dan hasrat terlarang, mengapa Mahacinta memegahkan hatiku? Mengapa Adam dan Hawa harus terhukum? Dan … mengapa pula cupid memanahkan panah cintanya tepat di dadaku?

 

Hatiku, tempat penuh harap menunggu

Apakah aku satu-satunya yang mendoakanmu segigih ini?

 

***

“Ikut aku yuk!”

“Kemana?”

“Ikut saja, aku tak mungkin berbuat jahat kepadamu.”

Aku mengikuti langkahnya. Memasuki lift. Ruang berukuran satu setengah meter kali satu setengah meter berdinding kaca dengan tombol-tombol angka di sisi pintu. Ia menekan angka paling besar. Aku menatapnya penuh dengan tanya.

Lelaki jangkung sekitar 173 sentimeter. Berkulit kuning langsat. Berkemeja hitam, celana coklat muda dengan ikat pinggang hitam. Berpantofel coklat tua. Lengan baju yang sengaja sedikit di gulung. Tam tangan coklat tua melingkar di perkelangan kirinya. Mata bulat, alis agak tebal, hidung mancung berbibir tipis merah muda. Rambut hitam pekat lurus dengan bagian depan menutupi sebagian kening. Wajah rupawan, seperti remaja yang baru memasuki dunia perguruan tinggi. Padahal usia kami setara.

Tatap tetap teduh meski enggan menoleh. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Kami sampai di angka yang dituju. Setelah keluar dari ruang tersebut, kami menuju sebuah pintu agak ke sudut. Ia mempersilakanku berjalan lebih dulu, ternyata ada sebuah tangga menuju atas.

Aku terhenti di bibir tangga. Menoleh ke arahnya dengan penuh tanya dan harap ia mau menjelaskan.

“Naik dulu. Nanti kamu tahu.” Balasnya.

Aku menaiki tangga dengan penuh hati-hati. Ia mengikuti. Ketika sampai di atas, ada sebuah pintu. Perlahan kubuka. Ternyata kami sampai di atap gedung.

Remang-remang namun indah. Bandung memang punya sejuta cinta untuk membuat pengunjungnya bertahan. Langit Bandung dengan penuh cinta.

“Kenapa kita ke sini?”

“Heemm… ingin saja”

“Pernyataan yang tak menjawab pertanyaan!” jawabku sinis.

“Hei! Santai sedikit, kita nikmati suasana ini sejenak.”

Aku menuruti pintanya. Merasakan dingin semilir angin yang berlahan menjadi hangat di dadaku.

“Besok kamu pulang?”

Aku menganggung cepat.

“Kita baru saja bertemu.”

“Lantas?”

“Tinggalah beberapa hari lagi. Sampai aku menyelesaikan urusanku di sini.”

“Kamu pikir aku tak punya pekerjaan lain?”

“Hahaha” ia tertawa renyah.

“Duduk di sana, yuk.”

Ia menunjuk sebuah tempat. Terdapat pipa besi yang bisa kami duduki.

Pipa besi tersebut tingginya sekitar setengah meter. Diameter sekitar satu meter dengan panjang sekitar lima meter.

 

“Aku tak mengira, kita bisa bertemu di sini.”

“Aku juga.”

“Kau sedang sakit gigi?”

“Tidak.”

“Singkat sekali jawabanmu.”

“Aku hanya bingung harus berkata apa.”

“Aku kira guru bahasa sepertimu punya jutaan kata yang bisa diucapkan.”

Yaa aku punya. Tapi dihadapanmu semua seakan sirna.

“Bagaimana studimu?” Tanyaku.

Allhamdulilah lancar.”

“Aku kira kamu takkan kembali.”

“Mana mungkin aku tak kembali, sedangkan di sinilah rumahku.”

 

Sejak mengenalnya di sebuah sosial media, perlu 5.882 jam menanti untuk bisa bertemu dengannya secara langsung dan ini sebuah takdir yang tak dapat dihindari.

Aku meminjam ribuan waktu, meski tak mampu memiliki hatinya.

Aku mengenalnya dengan nama Pradana. Mahasiswa pascasarjana di salah satu kampus terbaik di Timur Tengah. Aku mengaguminya. Mulai hari itu aku terus mendoakannya. Mendoakan keselamatan dan kesuksesannya. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadanya.

Ia lulusan salah satu kampus terbaik di Indonesia. Satu tahun studinya, gelar master (Strata II) udah dikantongi. Tak hanya itu, diperayaan penuh haru tersebut, ia memboyong kedua orang tuanya ke tanah suci. Kado termanis untuk sepasang orang tua nan dengan sabar mendidik.

“Kenapa kamu terus menatapku?” tanyanya memecah hening.

“Karena aku suka senyummu. Eh maksudku….” Dengan sigap lekas kutangkis.

“Hahahaha, sudah sudah tak apa. Kalau begitu aku akan terus tersenyum.”

Aku jadi tersipu malu.

“Aku kira rambutmu lebih pendek, seperti foto terakhirmu di instagram.” Tanganku menghampiri rambutnya. Tak lama kemudian, aku terkejut.

“Eh maaf, aku tak sopan. Berani menyentuh kepalamu.” Seraya menarik tangan dan mengepalkannya.

“Tak apa, aku suka.” Tangan kirinya menarik tanganku untuk menuntunnya menuju kepala. Ia mendikte tanganku untuk membelai rambutnya.

“Aku suka tangan ini menyentuh kepalaku. Tangan penuh kasih.” Ia melepaskan tangannya dan membiarkan tanganku menjejali tiap helai rambutnya.

“Aku kira, rambut lelaki tak sehalus rambut perempuan.”

“Ini karena shampo yang aku pakai. Dibuat dengan bahan alami, harganya hanya 99 ribu rupiah.” Seraya mencontohkan seseorang yang ada diiklan televisi.

“Ah!dasar!” aku mengacak-acak rambutnya karena kesal.

Kami tertawa bersama.

“Coba sebut namaku!” pintanya.

“Kenapa?”

“Sebut saja”

“Pra-da-na”

“Hem…” ia mengangguk-angguk.

“Kenapa?”

“Aku suka kamu menyebut namaku seperti itu.”

“Maksudmu?” tanyaku heran.

“Suaramu renyah, nyaman di dengar. Apa lagi saat kau menyebutkan Prrraaaaaaaa. Hahaha.”

“Kau meledekku?”

“Cadel R? tak apa, khas. Mungkin nanti aku rindukan.”

Kami kembali terdiam.

“Apa yang akan kamu lakukan setelah selesai di sana?”

“Aku mau melakukan berbagai penelitian, setelah kurasa cukup. Aku akan kembali ke Indonesia. Menjadi dosen di almamaterku dulu”

“Hanya menjadi dosen?”

“Iya.” Dengan penuh keyakinan.

“Kalau aku jadi kamu. Punya kemampuan mempuni, otak cemerlang, sikap bersahaya, dan wajah yang rupawan aku bakal jadi presiden. Atau paling tidak jadi menteri agar negara ini sehebat negara tetangga.”

“Terima kasih sudah memuji wajahku yang rupawan.”

“Ah! Aku salah sebut” ucapku kesal.

“Hahahaha perkataanmu yang spontan itu sesuatu yang jujur dari hati.”

“Okelah, kita kembali ke pembahasan sebelumnya.”

“Hahaha, kamu yang lebih cocok jadi menteri. Kau pandai bertutur kata, gaya bicaramu sudah seperti pejabat berpidato di depan mimbar”

“Jangan beralih!”

“Seberapa banyak syair yang kau buat untuk ia yang bersemayam di dadamu?”

Aku terdiam. Seolah tertampar dengan perkataannya. Mengapa ini terkesan seperti introgasi.

“Maksudmu?”

“Aku lihat di akun media sosialmu. Penuh kata dengan rasa. Untuk siapakah gerangan?”

“Ah! Itu hanya iseng” aku kembali mengalihkan.

“Ayo kita turun.” Ajakku seraya berjalan.

“Hei tungggu! Aku mau belajar langsung dari guru sepertimu!” ia menapaki langkahku.

Aku bergegas menuruni anak tangga. Menunggu ke depan lift yang tadi membawaku ke tempat. Aku menekan tombol berkali-kali namun angka yang terlihat masih menunjukkan jauh dari lantai tempatku berada.

“Ada perkataanku yang membuatmu tersinggung?” ucapnya dengan napas tersengal-sengal.

“Tak ada.”

“Tapi kenapa kau bergegas menghindar?”

“di Saudi, sekarang memang masih pukul setengah enam sore. Tapi sudah hampir pukul setengah sepuluh malam waktu Bandung, sudah waktunya beristirahat.”

“Sebentar lagi saja.” Seraya memohon.

Pintu lift terbuka, kami masuk bersamaan. Ia menekan angka satu.

“Hei! Aku mau kembali ke kamarku. Mengapa kau tekan angka 1?”

“Temani aku minum kopi sebentar”

Aku mengutuk lambat-lambat dalam hati. Mengutuk ketidakberdayaanku menolak.

Sesampainya kami di lantai satu, ia mempersilakanku berjalan lebih dulu. Kami menuju restoran yang ada di sayap kiri hotel. Dari luar tampak agak ramai untuk waktu tersebut. Mungkin musabab esok mereka akan kembali ke kota masing-masing hingga ingin menikmati malam terakhir di Bandung, serupa aku. Aku memang sedang mengikuti pelatihan dari empat hari yang lalu. Ia? Ia sedang melakukan sebuah pertemuan dengan … ah apalah namanya itu aku tak paham. Hari ini, merupakan hari pertamanya.

“Kita duduk di sana ya.” Ia menunjuk meja di salah satu sudut restoran. Meja bundar tak terlalu besar dengan dua bangku berhadapan.

Tanpa banyak protes, kami berjalan menuju meja tersebut.

“Aku yang pesan, kamu mau apa?”

“Hot chocolate.”

“Oke. Sebentar ya.”

Ia berjalan ke tempat pemesanan. Hatiku semakin tak karuan.

Mahacinta mengapa kau datangkan dia ketika aku mulai jenuh menunggu?

“Maaf ya menunggu.”

“Iya tak apa.”

“Ada yang mau dipesan lagi?” seraya menirukan seorang pelayan.

“Cukup.”

Sepuluh menit berlalu, kami masih sibuk ditenggelamkan pikiran. Keadaan ini seakan membuat tenggorokanku tercekik. Rinai perlahan turun. Membasahai jalan yang terlihat dari dalam restoran.

“Seberapa dalam?”

“Hah?” aku mulai tersadar dari lamunan.

“Seberapa dalam?”

“Apa?”

“Perasaanmu.”

“hahaha” aku tertawa pilu.

“Belum pernah aku melihat wanita yang mencintai sedemikian dalam, serupamu.”

“Ini pujiankah atau … ?”

“Aku tak tahu doa apa yang kau lantuntan, tapi aku percaya ia sangat beruntung kau doakan.”

Hatiku makin berkecambung. Apakah dia paham yang sedang dibicarakan? Apa ia berpura-pura tak paham? Atau …? Ah aku semakin kesal dibuatnya.

“Jarak kita begitu jauh. Ribuan kilometer. Hanya bermodal kedua kaki takkan sampai. Namun dengan kedua belah tangan, kita akan dekat.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Bukan apa-apa. Aku hanya mengutip kata-kata yang kau unggah. Indah, meski terkadang tak kupahami sepenuhnya.”

“Apa kau mengutuk pertemuan kita yang terlambat?” tanyamu lagi.

“Tak ada yang terlambat, semua tepat seperti yang Allah rencanakan.”

“Studiku sekitar beberapa tahun lagi.”

“Mengapa kau bicakan itu padaku?”

“Waktuku masih begitu panjang. Anganmu masih terbentang lebar.”

“Aku semakin tak tak paham.”

“Oiya, kau sedang menempuh pendidikan mastermu kan? Paling cepat tahun besok rampung, setelah itu apa rencanamu?”

“Menikah.”

“Waw, aku tak tahu kalau kau sudah memiliki kekasih.”

“Sudahlah! Jelaskan apa maksudmu? Berkata ini. Berkata itu. Membahas tulisanku seakan kau paham segalanya. Bercerita ke sana ke mari lalu menempasku dengan pertanyaan yang sulit aku telaah. Aku yang guru bahasa, Dan! Aku yang harusnya sedang bermain kata. Bukan dirimu!” aku melampiaskan perasaanku.

“Maafkan aku jika membuat hatimu tak nyaman.”

“Dan! Ada ratusan malam penuh harap sebelum hari ini untuk dapat bertemu denganmu. Ada syair tak putus-putus kulantunkan hanya untuk mendoakan keberadaanmu. Ada jutaan resah yang harus kutempuh demi bertahan sampai detik ini. Tapi aku tak pernah pasai, Dan! Tak pernah! Berkali-kali aku lihat wajah dirimu untuk berharap menuntasakan dahaga. Nyatanya aku semakin candu. Kau tahu? Sebelum mengenalmu, aku meyakinin bahwa hanya doa yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Nyatanya aku salah. Ada cinta dan rindu yang mampu melakukannya bahkan untuk dua pasang mata yang belum pernah bertemu. Tolong jelaskan, apa aku gila seperti yang mereka kata?”

“Terima kasih untuk segala pengakuanmu. Jujur aku terlalu pengecut untuk membuka sesi ini dan hanya bisa berlaga bodoh tak memahami. Aku paham semua yang kau rasakan. Tak ada yang salah dari rasa yang tak bermata karena hati yang menuntunmu. Terima kasih untuk doa yang kau dendangkan, mungkin karena salah satu doamu aku mampu berdiri di hadapanmu. Terima kasih sudah menguatkan meski aku tak turut menyokongmu. Bila ratusan malam kau kering karena aku, maka nikmatilah malam ini untuk menyudahinya.”

Kami terdiam. Aku menutup wajahku menahan derai.

“Berbahagialah.” Ucapnya.

“Sebelum kau katakan aku sudah berbahagia.”

“Ada banyak perempuan di luaran sana ingin sepertimu. Dengan segala keberuntungan yang tak kebetulan itu, kau menjadi sosok yang tangguh. Berbahagialah. Musabab hatimu yang mencinta tanpa salah.”

“Terima kasih.”

“Ada ratusan malam. Namun baru malam ini semesta mengizinkan kita. Aku takkan berjanji, perihal hati yang menanti. Jangan menunggu bila tak mampu, jangan tinggalkan bila tak kuasa.”

Ia menggesar bangku tepat di sebelahku. Merentangkan kedua tangan. Lalu tangan kanannya menyentuh santun kepalaku. Merebahkannya dalam dekap. Memelukku seakan pasang kekasih yang baru bertemu.

Hujan semakin deras. Tangisku tak tertahankan. Perlahan kemeja hitam yang ia kenakan mulai basah. Sebab rinduku yang menghujani kian bertambah. Langit Bandung kelabu. Ruang sekitarku mendadak abu-abu. Pilu

***

Aku terbangun. Ruang bernuansa putih. Dengan perabot lengkap. Sebuah televisi berukuran 32 inci bersandar di dinding tepat di seberang ranjang. Sebelah kiri sebuah lemari pendingin dan lemari pakaian di sebelah kanan. Dua meja kecil di kanan kiri ranjang.

Kuraih ponsel yang berada di sisi kiri tempat tidur. 02.35 WIB. Masih terlalu dini untuk terjaga. Kukerahkan tenaga menuruni ranjang. Berjalan mendekati tirai di sisi kanan ranjang. Dari kamar hotel, kulihat Bandung basah. Hujan.

Aku merasakan pening di kepalaku. Berkali-kali aku mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Nyatanya aku tak mampu.

Aku kembali berjalan ke ranjang, meraih telepon genggam.

Membuka ponsel dan dan mencoba menemukan sesuatu di sosial media.

Postingan teratas dan pertama kulihat. Sebuah gambar diri berlatar Laut Merah di Arab. Lelaki yang lambat-lambat kukenal. Berdiri dengan kemeja hitam berlengan panjang sedikit tergulung. Jam tangan coklat tua melingkar di pergelangan kiri. Celana coklat muda, ikat pinggang hitam berpantofel coklat tua. Dengan rambut berantakan tertiup angin serta senyum bibir tipis merah muda yang menentramkan. Dalam gambar tertera waktu dan tanggal pengambilan. 17.20 16/02/17. Itu berarti pukul 21.20 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Bawah gambar terdapat kalimat, Nice day @Redsea. Aku begegas memeriksa kalender yang terdapat di dalam ponsel. Seperti ada sesuatu yang janggal.

02.43 dini hari 17/02/17.

Bekasi, 19 Februari 2017

Kepadamu yang ranum dikenang fajar

-Divia “VeliaRis” Uzukriyah-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*