Sajak Orang Kampung Karya Yogen Sogen

Anjing Rumah, Purnama Dan Sejarah
Oleh : Yogen Sogen

 

Di tungku purnama itu
Seekor anjing rumah meresapi belaian sepi di bawah kaki purnama,
Menenun sajak yang menggonggong degup temaram dalam teka teki penuh kebatilan

Anjing rumah itu menundukkan kepalanya di bawah purnama yang pasi
Sedangkan empunya merenggut asa menikam malam dengan sebilah puisi yang menderap menuju entah pada mozaik kata dengan manik-manik sebuah purnama yang payau

Lalu purnama perlahan hilang sebelum anjing rumah menerawang sebuah arti hidangan dari empunya dalam keremangan dengan suhu tungku romantis

Sedangkan sang empunya masih menggilas sajak purnama yang juga baginya adalah sepotong cinta yang bersembunyi pada bilik-bilik kata

Namun sebait pengertian telah lenyap dalam rindang purnama
Bagi seekor anjing rumah adalah menunggu kebatilan hadir sekali lagi di sekitar kaki empunya untuk dijadikan hidangan empuk dalam bayang purnama,
Namun ia lupa bahwa kebatilan hadir bukan pada tungku penantian, karena kadang kebatilan itu hadir di balik purnama yang tersesat

Dan empunya anjing adalah pembunuh yang harus diwaspadai, dalam purnama rimbun ia tentu masih memanen puisi romantis  yang bersetubuh dengan purnama
Namum pada satu degup purnama yang tersesat ia akan menjadi membunuh jika kelam lebih ganas menghempas purnama

Tungku,
Purnama yang tersesat
Anjing rumah dan empunya
Sama menenun puisi merenggut keadaan, membunuh kehadiran lalu melupakan sejarah sebuah kehadiran, bahwa hidup selalu meresapi belaian waktu yang kini kita saling menunggu untuk saling  membunuh pada hadir yang kusebut waktu dengan mengapa kusebut kita penikmat yang tak sempat mengucapkan terima kasih kepada sejarah.

Larantuka; 04/08/2017

 

Sajak Orang Kampung
Oleh : Yogen Sogen

 

Dari hutan yang menyembah gunung
Orang-orang sibuk membelah pertanyaan
Merenggut makna pada legam pohon pun menjelma hutan jadi arang-arang kota

Konon katanya orang-orang kampung adalah selir kota yang membuntingi gedung-gedung kota, tapi kami tetap mencintai rumah alang-alang, begitulah kami

Kemarin si Otong hadir di tengah kampung membawa  nasi kotak dengan lauk kampanye yang gurih untuk merenggut suara kami di musim pencoblosan hari ini kami tetap setia menikmati ubi rebus dengan sambal ala kadarnya, seperti sebelumnya

Dari batu yang menjelma jadi tanah
Kami sibuk melukis kisah pada tunas-tunas perhitungan, menyangkul pertanyaan di setiap peluh
Lalu menantikan musim panen pencoblosan orang kota berdasi omong kosong,
Kami kembali menggelar mufakat untuk kembali ke ladang batu

Dan di satu musim kemarau
Kami melepas cangkul
Kata orang kampung biarkan apa yang kita tebang dan yang kita tanam menjadi prasasti tentang sebuah musim penantian,
Untuk saat ini mari kita  pergi melihat wajah kota, kota yang dihasilkan dari air mata dan peluh kita itu

Lalu si Otong datang lagi
Rayunya sekali lagi, Jangan pergi kali ini akan kubawa hasil panenmu ke kota dan menjualnya dengan harga tinggi agar kalian tetap menjadi petani yang akan memperkaya diriku.

Lalu semua tetap seperti sebelumnya sedangkan kota semakin seksi melintasi horizon penuh kebatilan dan merenggut harapan kami dari ada kepada ketiadaan.

Larantuka; 04/08/17

 

Dermaga
Oleh; Yogen Sogen

 

Laut yang gaduh
Menampar sepi ke wajahku
Menikam sunyi pada samudera tangis
Ikan-ikan sibuk menari di karang ketika senyummu  jarang membelaiku

Camar-camar sibuk mengitari cakrawala ketika samar rupamu meresah pada debur jantungku
Dan senja menepi sekali lagi  pada buritan jiwa memantik rindu yang gerimis di wajahku

Sekali lagi
Kau hinggap di biduk rindu
Membawa pelukan hampa yang tersesat di jaring senja
Saat kapal-kapal sibuk merangkai arti di bibir dermaga dan aku tetap termangu menunggu sajak kepulangan

Sekali lagi
Kularungkan segala rindu yang tak lagi ingin mengenal musim yang surut di kesunyian sebab bagiku bidukmu telah tuntas mengikat dermaga kita akan sebuah mentari yang hinggap di ujung dermaga

Derai terakhir
Kudapat; kau masih memiliki naluri pelaut yang garang mengikis asinnya samudera
Membawa seluruh biduk ke pelabuhan entah
Menjelma sejagat ombak pada derap kealpaan
Melupakan dermaga dan laut yang telah retak untuk bercermin

Mungkin; Aku telah ditakdirkan untuk berumur senja di dermaga yang tegar termangu
Mengikis takdir yang menggigil di mulut dermaga
Meski rindu kian rimbun serupa lumut di kaki dermaga.

Larantuka, 04/08/17

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*