Penemuan Artefak Mirip Naga di Gunung Lalakon Bandung

Bandung – Penemuan artefak yang diduga peninggalan purbakala di Kawasan bukit Gunung Lalakon menarik perhatian para penggiat budaya.

Pemerhati lingkungan dan penggiat budaya Sunda Kiwari mengunjungi Museum Sri Baduga Bandung untuk melihat artefak yang baru saja ditemukan tersebut.

Pemerhati lingkungan dan kebudayaan, Iyus Rusmana mengatakan, kedatangannya ke Museum Sri Baduga adalah untuk mengklarifikasi apakah benda yang diduga artefak yang ditemukan itu benar atau tidak keasliannya.

Dia berharap klarifikasi dan proses identifikasi pun segera dilakukan oleh pemerintah dan dilakukan penelitian lanjutan Ilmiah supaya masyarakat tenang dan tidak berpikir klenik.

“Penelitian harus cepat supaya tidak simpang siur informasinya dan segera tahu hasilnya bagaimana. Maksudnya biar jelas masyarakat juga tenang di daerah sana karena di lingkungan penemuan ini banyak menjadi bahan perbincangan warga lokal,” kata Iyus Senin (18/9).

Museum Sri Baduga menerima koleksi baru, sebuah artefak kepala naga berbelalai gajah di Kabupaten Bandung.

Iyus mengatakan, Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki birokrasi dan institusi yang jelas, sudah seharusnya menindaklanjuti kasus semacam ini dengan cepat dan tepat. “Kita dalam satu negara yang punya birokrasi dan instritusi yang jelas minta kejelasan dan Kita akan tetap tunggu hasilnya nanti. Segala hal yang mengandung filosofis juga tentunya harus dibuka. Dan dari sanalah kami, pihak pemerhati kebudayaan ingin menguak informasi,” lanjut Iyus.

Menurut Iyus, sejarah pun mengajarkan dua hal bagi bangsa ini, yakni bijaksana dan waspada dengan sejarah dan dampak penghilangannya.

Selain itu, tim juga harus waspada tehadap kerusakan lingkungan dan cagar budaya karena proses pembangunan.  Dia mengingatkan agar cagar budaya dan peninggalan sejarah dalam bentuk apapun harus mempertahankan keberlangsungan hidup manusia.

“Pikirkan anak cucu kita kelak,” kata Iyus.

Ditempat yang sama, Budi Dalton yang juga seorang pemerhati budaya menambahkan, atas dasar apapun dikuaknya penemuan benda ini, pihaknya akan menunggu hasil penelitian ilmiah dari tim Arkeologi Jabar.

“Sebenernya siapapun yang menemukan niatnya apa? Apakah ini ada kaitannya dengan rusaknya lingkungan di wilayah pembangunana tol Soraja? Atau ini salah satu cara mencari perhatian agar permasalahan pembangunan di sana bisa naik kepermukaan? Kita tidak tahu. Intinya, Kita tunggu saja hasil dari para peneliti,” sambung Budi.

Sementara, Romulo dari Museum Sri Baduga mengatakan, pihak museum saat ini pun sama halnya harus menunggu putusan untuk menindaklanjuti penelitian benda cagar budaya ini. Sebab segala wewenang penelitian tersebut berada pada Tim Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat.

“Kami Tim Sri Baduga dalam hal ini hanya melaksanakan tugas dalam melestarikan. Kami untuk saat ini selamatkan langsung yang diduga peninggalan sejarah ini. Mengenai penghentian sementara atau rencana pembangunan proyek ke depannya bukan wewenang kami,” jelasnya.

Tim Museum, saat ini juga masih menunggu kordinasi dengan Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat, karena lembaga yang berhak melakukan penelitian itu adalah tim dari Balai Arkelogi Jawa Barat.  Lembaga ini punya teori atau cara untuk mengadakan penelitian di lapangan.

 

 

Sumber : ayobandung.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*