Konsistensi, Stamina di Jalan Sepi

Mengabdikan diri untuk  advokasi warga miskin, marjinal dan tanpa bayaran sama seperti memilih jalan sepi. Butuh sebuah konsitensi untuk tetap bertahan dan melanjutkan visi.

Konsitensi bisa diartikan sebagai sikap setia terhadap jalan yang telah kita pilih. Jalan perjuangan yang terasa sulit, namun kita tetap teguh untuk tidak bergeser ke jalan lain. Konsistensi tidak datang sendiri, melainkan butuh  sikap kerasa kepala dan daya tahan (stamina) mental dan juga fisik.

Tentu tidak mudah bertahan di jalan yang tidak lazim dilalui kebanyakan orang, Tanpa disokong daya tahan mental dan fisik yang prima, mustahil seseorang dapat menjalankan pilihannya dengan konsisten.

Pilihan yang tidak lazim biasanya adalah jalan yang sepi. Tidak banyak orang yang melewatinya sebagai teman seperjuangan. Sehingga, seseorang yang memilih jalan ini akan merasa seolah-olah hanya ia sendiri. Kalaupun ada teman, biasanya mereka tidak akan tahan. Melemah pada jalan itu dan satu persatu memilih mundur.

Stamina mental, fisik dan juga sikap keras kepala yang dimiliki seseorang akan menahannya pada jalan sepi itu. Ini ditambah dengan visi seseorang dalam mencapai tujuan jauh ke depan.

Saya meyakini dengan visi  inilah yang menjadi spirit perjuangan. Sehingga, keinginan berjuang di jalan sepi tetap terpelihara dan konsistensi ikut terjaga. Visi ibarat pemandu dalam gerakan perjuangan, agar kita tetap setia walau jalan penuh rintangan.

Apalagi bila melihat masa kini yang dipenuhi sikap pragmatis, oportunis dan materialis. Ketiga sikap tersebut seakan telah menguasai sendi sendi kehidupan. Termasuk ruang public yang juga nyaris dikuasai keputusan politik yang kebanyakan orang bilang politik itu kotor.

Memilih jalan mengadvokasi warga miskin, marjinal , tanpa bayaran adalah jalan sepi saat ini. Jalan yang tidak banyak ditempuh. Bahkan orang-orang yang dulu berjalan setia di jalan advokasi, kini menyimpang dari jalan tersebut dan memilih jalan politik.

Banyak di antara mereka merubah dan menjadi takluk pada sikap pragmatism dan oportunis. Bahkan terlibat dalam praktik homo homini lupus.

Walau ada juga yang bertahan dengan nilai-nilai yang baik, tapi umumnya mereka berada di luar pusat kendali kekuasaan politik.

Belum lagi risiko hukum, ancaman, intimidasi atas fisik dan kesemalatan jiwa  yang satu paket mengiringi perjuangan advokasi warga. Termasuk paket iming-iming suap agar mundur memperjuangkan nasib warga .

Dalam perjalananya, rasa ingin menyerah tentu sulit dihardik. Namun, hanya mereka yang  percaya bahwa jalan membela nasib warga miskin dan marjinal adalah jalan iman pada Tuhan, membuat mereka akan  bertahan pada jalan sepi ini.

Hormat saya pada banyak orang yang saya kenal tetap setia pada jalan sepi ini, tua muda,pria wanita ; yang tidak dapat saya sebut namanya satu persatu dimana pun berada. Semoga tetap sehat dan diberi berkah dari Tuhan.

Salam hormat.

Sugeng Teguh Santoso, SH

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*