Polisi Buru Penyebar Hoax Ulama Dibacok di Cigudeg

BOGOR – Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky menegaskan bahwa kabar telah terjadi pembacokan seorang Ulama bernama Sulaeman di Desa Sinar Asih, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, yang menjadi viral di Medsos tidak benar alias Hoax. Ia pun berjanji akan memburu pelaku penyebar kabar yang telah membuat geger para netizen akhir-akhir ini.

” Setelah dilakukan pengecekan oleh Jajaran Polsek Cigudeg dan Satreskrim Polres Bogor dilapangan, dipastikan kabar tersebut tidak benar (Hoax,red). Kami akan kejar pelaku penyebar informasi yang sudah meresahkan masyarakat,” ungkap Kapolres dalam keterangan Persnya, Rabu (07/02/2018).

Ia juga menghimbau agar pelaku penyebar hoax untuk segera menyerahkan diri guna meringankan hukuman. Apalagi, tambah Kapolres, dalam pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tahun 2006 menyebutkan, pelaku terancam hukuman 6 tahun penjara atau denda Rp1 Miliar.

” Hasil pengecekan memang ada kejadian pembacokan oleh Jamhari (53) yang diduga mengalami gangguan jiwa pada Selasa (06/02) terhadap Sulaeman (55) tetangganya sendiri, tetapi korban bukan seorang Ustad ataupun Ulama dan tempat kejadiannya pun bukan di Desa Sinar Asih tetapi yang benar di Kampung Cijambe RT 02/RW 01 Desa Banyu Asih, Kecamatan Cigudeg,” imbuhnya.

Lebih lanjut, AKBP Andi M Dicky menjelaskan, berdasarkan keterangan korban dan keluarganya, pelaku pembacokan (Jamhari,red) ternyata mengalami gangguan jiwa dan alasan pihak korban tidak melaporkan ke Polisi dikarenakan sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Jika setelah diperiksa oleh tim dokter dan pelaku dinyatakan ODGJ maka, sesuai Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) kepolisian tidak bisa memproses pelaku secara pidana,” jelasnya.

Kepala Desa Banyu Asih, Mudis Sunardi memaparkan, peristiwa pembacokan terhadap Sulaeman benar adanya. Tetapi, profesinya bukanlah Ulama seperti kabar yang tersebar di medsos melainkan seorang petani.

“Saya juga baru mengetahui kejadian tersebut adanya laporan dari ketua RT setempat, bahwa Selasa pagi sekitar pukul 06.00 WiB telah terjadi pembacokan kepada korban oleh pelaku di kebon duren milik korban,” papar Kades.

Informasi yang dihimpun, kata dia lagi, awal mula kejadian bermula saat pelaku hendak membeli durian dengan harga Rp5 ribu namun oleh adik korban tidak diperbolehkan karena harga jual durian berkisar Rp30 ribu sesuai harga pasaran. Namun tak disangka, selang beberapa lama pelaku datang ke kebun durian membawa sebilah golok lalu terjadilah aksi pembacokan terhadap korban.

” Adik korban melarang pelaku membeli durian dengan harga Rp5 ribu itu hanya bercanda, dan memang harga dipasaran Rp30 ribu perbuah. Tetapi, karena mengalami gangguan jiwa maka pelaku mendatangi kebun dan langsung melakukan aksi pembacokan,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*