Jabar Online (Bandung) – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, dosen asing bisa mendongkrak reputasi perguruan tinggi Indonesia untuk masuk kampus kelas dunia.

“Kami targetkan itu, ada peningkatan mutu pendidikan Indonesia, perguruan tinggi bisa berkolaborasi dengan dosen luar negeri,” ujar Nasir di Universitas Padjadjaran dalam peringatan Hardiknas, Rabu.

Nasir mengatakan, kehadiran dosen luar negeri bukan hanya sebagai staf pengaja, namun lebih ke arah bentuk kolaborasi, bertukar ilmu pengetahuan antar dosen dan dengan mahasiswa.

Para dosen lokal dan asing bisa berkolaborasi dalam melakukan penelitian serta menciptakan inovasi baru bersama-sama yang ujungnya akan membawa reputasi perguruan tinggi Indonesia ke arah yang lebih baik.

“Kalau ini bisa dilakukan, reputasi perguruan tinggi di Indonesia akan meningkat dengan secara otomatis dengan kolaborasi tadi,” kata dia.

Meski begitu, kehadiran dosen asing sering terganjal beberapa faktor, salah satunya waktu menetap di Indonesia.

Dari catatan yang diperoleh Kemenristekdikti, para dosen asing sering keluar masuk Indonesia padai waktu yang tidak lama.

“Problemnya kalau orang akan tinggal di Indonesia dalam hal ini berkolaborasi (minimal) satu tahun (menetap di Indonesia). Mereka enggak bisa satu bulan keluar lagi, nanti masuk lagi. Itu costnya mahal, bagi PT juga itu akan berat,” katanya.

Akan tetapi, bagi perguruan tinggi yang ingin menggunakan jasa dosen asing, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, salah satunya ada pertukaran antar dosen dari kampus yang menjalin kerjasama.

“Ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu namanya staf mobility, jadi pertukaran dosen. Dosen Indonesia keluar negeri, dosen luar negeri ke Indonesia, dalam hal kolaborasi. Kalau tidak dilakukan itu ga bisa,” kata Nasir.

Saat ini tercatat 200 dosen luar negeri mengajar di kampus dalam negeri, sementara dosen Indonesia yang pergi ke luar negeri menyentuh angka 1.000 orang.

“Kami targetkan PT-PT yang besar bisa masuk 10 atau lima orang dosen berkolaborasi. Kalau lebih besar lebih bagus untuk PT masing-masing. Tidak berarti mendesak dosen dari luar negeri, tapi berkolaborasi,” kata dia.

Dia mencontohkan King Fahd University of Petroleum and Minerals di Arab Saudi yang 40 persen dosennya berasal dari luar negeri dan ternyata hasilnya bisa mendongkrak posisi kampus itu ke posisi 189 besar dunia.

“Kita yang tertinggi baru 277 dunia, hanya baru. Kita yang sudah masuk 500 dunia dan mereka belum masuk 500 besar tetapi sekarang sudah 189 dunia jauh lebih tinggi dari kita. Apa yang dilakukan, maka mau tidak mau kita harus berkolaborasi,” kata Nasir.

(Editor: Dwi Arifin)