Perkembangan Inflasi Di Indonesia

Perkembangan Inflasi Di Indonesia

Inflasi adalah suatu keadaan perekonomian dimana harga-harga secara umum mengalami kenaikan. Kenaikan harga itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang. Kenaikan harga-harga barang pada saat hari raya seperti lebaran, natal, tahun baru, dan perayaan-perayaan hari raya lainnya tidak dianggap sebagai inflasi. Hal itu disebabkan karena biasanya setelah hari raya tersebut harga-harga akan turun kembali. Inflasi secara umum terjadi karena jumlah uang yang beredar lebih banyak daripada yang diperlukan. Inflasi merupakan suatu gejala ekonomi yang tidak pernah dapat dihilangkan secara tuntas. Usaha yang dilakukan biasanya hanya sampai sebatas mengurangi dan mengendalikan inflasi. Jenis-jenis inflasi dapat dibedakan berdasarkan :

Berdasarkan sumbernya inflasi dapat digolongkan menjadi :

  1. Inflasi yang berasal dari dalam negeri, Inflasi yang berasal dari dalam negeri misalnya : terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru serta gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal.
  2. Inflasi yang berasal dari luar negeri, adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi sebagai akibat biaya produksi barang di luar negeri terlalu tinggi atau adanya kenaikan tarif terhadap impor barang.

Selain itu juga, inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut dengan inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation).

Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga bisa terus berubah dan meningkat, sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan karena nilai uang yang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).

Berdasarkan tingkat keparahannya inflasi dapat dibedakan :

  1. Inflasi ringan, Inflasi yang masih belum begitu mengganggu keadaan ekonomi, tetapi belum menimbulkan krisis dibidang ekonomi. Inflasi ringan berada dibawah kurang dari 10% per tahun.
  2. Inflasi sedang, Inflasi yang belum membahayakan kegiatan ekonomi, tetapi inflasi ini sudah menurunkan tingkat kesejahteraan orang-orang yang berpenghasilan tetap. Inflasi ini berkisar antara 10% – 30% per tahun.
  3. Inflasi berat, Inflasi ini sudah mengacaukan kegiatan perekonomian. Pada inflasi ini, orang-orang cenderung untuk menyimpan barang dan umumnya orang-orang enggan untuk menabung karena bunga tabungan lebih rendah dari laju inflasi. Inflasi ini berkisar antara 30% – 100% per tahun.
  4. Hyperinflation, Inflasi ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian dan susah untuk dikendalikan walaupun dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Inflasi berat ini berada lebih dari 100% per tahun.

Inflasi dapat diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

  1. Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
  2. Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI), Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
  3. Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
  4. Indeks harga barang-barang modal, Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

 

Kesimpulan :

Inflasi di Indonesia bukan hanya disebabkan oleh karena gagalnya pelaksanaan

kebijakan pemerintah di sektor moneter. Tetapi, yang seringkali dilakukan adalah untuk

menstabilkan fluktuasi tingkat harga umum dalam jangka waktu yang pendek. Dengan melakukan pembenahan di sektor riil secara tepat,bisa membawa kita sampai pada tahap messo dan micro ekonomi, sehingga fundamental perekonomian Indonesia dapat diperkokoh. Defisit APBN; peningkatan cadangan devisa; pembenahan sektor pertanian

khususnya pada sub sektor pangan; pembenahan faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi posisi penawaran agregat merupakan hal-hal yang perlu

mendapatkan penanganan dan perhatian yang penting untuk dapat menekan laju inflasi ke tingkat yang serendah mungkin di Indonesia, disamping pembenahan di sektor moneter.

 

Bahan Makanan hingga Transportasi Jadi Penyebab Inflasi Juni

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi pada Juni 2018 sebesar 0,59 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2018 yang sebesar 0,21 persen. Namun, lebih rendah dibandingkan Juni 2017 yang sebesar 0,69 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengungkapkan, inflasi terjadi karena ada kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran. Peningkatan inflasi terbesar terjadi pada transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

“Kelompok ini pada Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 1,50 persen atau terjadj kenaikan indeks dari 130,19 pada Mei 2018 menjadi 132,14 pada Juni,” kata Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/7/2018).

Suhariyanto mengungkapkan, dari empat sub kelompok pada kelompok ini, dua sub kelompok mengalami inflasi, satu sub kelompok mengalami deflasi, dan satu sub kelompok tidak berubah.

“Sub kelompok yang mengalami inflasi yaitu transpor sebesar 2,25 persen dan sub kelompok sarana dan penunjang transpot sebesar 0,14 persen. Sub kelompok yang mengalami deflasi yaitu sub klompok komunikasi dan pengiriman sebesar 0,03 persen. Sementara yang tidak mengalami perubahan yaitu jasa keuangan,” ujar dia.

Suhariyanto mengungkapkan, pendorong inflasi terbesar juga diikuti oleh bahan makanan. Bahan makanan ini mengalami inflasi sebesar 0,88 persen.

“Sub kelompok yang mengalami inflansi tertinggi yaitu sub kelompok sayur-sayuran sebesar 2,86 persen dan terendah pada kacang-kacangan sebesar 0,36 persen,” kata dia.

Sementara, sub kelompok yang mengalami deflasi tertinggi yaitu sub kelompok telur, susu, dan hasil-hasilnya sebesar 1,20 persen dan terendah terjadi pada bumbu-bumbuan yakni sebesar 0,05 persen.

Pria yang akrab disapa Kecuk ini juga mengatakan, kelompok bahan makanan memberikan andil atau sumbangsih inflasi sebesar 0,19 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu, ikan segar sebesar 0,08 persen, daging ayam ras sebesar 0,03 persen.

“Sementara komoditas dominan memberikan andil sumbangam deflasi yaitu, telur ayam ras dan cabai merahasing-masing sebesar 0,03 persen, beras bawang puting putih masing-masing sebesar 0,01 persen,” ujar dia.

Sementara itu, sisanya diikuti oleh kelompok makanan jadi, sebesar 0,40 persen, kelompok perumahan 0,13 persen, kelompok sandang 0,36 persen, kelompok kesehatan 0,27 persen, dan kelompok pendidikan sebesar 0.07 persen.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi pada Juni 2018 sebesar 0,59 persen. Angka ini lebih tinggi tinggi dibandingkan inflasi Mei 2018 yang sebesar 0,21 persen. Namun ini lebih rendah dibandingkan Juni 2017 yang sebesar 0,69 persen.

Sementara, untuk inflasi tahun kalender sebesar 1,90 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun (year on year) sebesar 3,12 persen. “Perkembangan harga komoditas pada Juni menunjukkan adanya peningkatan,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto, Senin 2 Juli 2018.

Dari 82 kota yang dihitung Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruh kota telah mengalami inflasi. “Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 2,71 persen dan terendah terjadi di Medan dan Pekanbaru sebesar 0,01 persen,” tambah dia.

Dia melanjutkan, inflasi pada Ramadan 2018 ini lebih rendah dibandingkan 2017 dan 2016 yang masing-masing sama yakni sebesar 0,69 persen.

“Inflasi pada Juni ini terendah. Lebih rendah pada Lebaran, Juni 2017 juga dari posisi bulan Lebaran 2016. Ini merupakan angka yang menggembirakan karena itu kita perlu apresiasi kinerja pemerintah dan BI yang mengantisipasi dan berbagai rencana,” pungkasnya.

 

Harga Gabah di Petani Naik

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, selama Juni 2018, rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp 4.650 per kg atau naik 2,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan harga di tingkat penggilingan sebesar Rp 4.739 per kg atau naik 2,08 persen.

Sementara untuk rata-rata harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani Rp 5.361 per kg atau naik 1,78 persen dan di tingkat penggilingan Rp 5.468 per kg atau naik 1,76 persen.

“Dibandingkan bulan lalu, rata-rata harga GKP di tingkat petani selama Juni 2018 naik sebesar Rp 96 per kg menjadi Rp 4.650 per kg, GKG di tingkat petani naik sebesar Rp 94 per kg menjadi Rp 5.361 per kg. Untuk rata-rata harga gabah kualitas rendah mengalami penurunan sebesar Rp 24 per kg menjadi Rp 4.281 per kg,” ujar dia di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/7/2018).

Dia mengungkapkan, selama Juni 2018, harga tertinggi gabah di tingkat petani Rp 7.000 per kg dan di tingkat penggilingan Rp 7.100 per kg. Sedangkan harga terendah di tingkat petani dan tingkat penggilingan masing-masing Rp 3.200 per kg dan Rp 3.300 per kg.

Sementara untuk harga beras, pada Juni 2018 rata-rata harga bers kualitas premium di penggilingan sebesar Rp 9.478 per kg, turun sebesar 0,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Harga Beras Medium

Petani memanen padi varietas Ciherang di areal persawahan Desa Ciwaru, Sukabumi, Sabtu (23/6). Petani mengeluhkan harga gabah kering panen saat ini Rp 488 ribu/kwintal dibanding tahun lalu yang menembus Rp 600 ribu/kwintal. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Untuk rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 9.135 per kg, turun sebesar 0,6 persen. Dan untuk beras kualitas rendah di penggilingan, harga rata-ratanya sebesar Rp 8.941 per kg, turun sebesar Rp 0,67 persen.

“Dibandingkan dengan Juni 2017, rata-rata harga beras di penggilingan pada Juni 2018 untuk semua kualitas mengalami kenaikan yaitu kualitas premium sebesar 0,36 persen, medium sebesar 3,88 persen dan kualitas rendah sebesar 6,69 persen,” tandas dia.

 

Daya Beli Petani Naik 0,05 Persen pada Juni 2018

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juni 2018 sebesar 102,04 atau naik 0,05 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, kenaikan ini karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,36 persen, lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,3 persen.

“Kenaikan NTP pada Juni 2018 disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian mengalami kenaikan yang lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian,” ujar dia di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/7/2018).

‎Dia menuturkan, NTP Maluku mengalami kenaikan tertinggi yaitu sebesar 0,78 persen dibandingkan kenaikan NTP provinsi lain. Sebaliknya, NTP Riau mengalami penurunan terbesar, turun 1,87 persen dibandingkan provinsi lain.

“Kenaikan tertinggi NTP di Maluku disebabkan kenaikan subsektor tanaman pangan khususnya komoditas ketela pohon yang naik sebesar 1,92 persen,” kata dia.

“Sedangkan penurunan terbesar NTP di Riau disebabkan penurunan pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, khususnya pada komoditas kelapa sawit yang turun sebesar 6,39 persen,” ujar dia.

Untuk diketahui, NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukan daya tukar (trems of frade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang konsumsi maupun untuk biaya produksi.

 

Tarif Transportasi Jadi Pengerek Inflasi Juni Capai 0,59 Persen

Badan Pusat Statistik melaporkan, tingkat inflasi pada Juni 2018 sebesar 0,59 persen.‎ Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2018 yang sebesar 0,21 persen, tapi lebih rendah dibandingkan Juni 2017 yang sebesar 0,69 persen.

Kepala BPS Suhariyanto di kantor BPS, Jakarta, Senin (2/7/2018) mengungkapkan, i‎nflasi pada Juni ini banyak dipengaruhi kenaikan tarif transportasi. Hal ini mengingat pada bulan tersebut banyak masyarakat yang melakukan mudik Lebaran.

‎”Yang perlu jadi catatan adalah transportasi‎. Inflasinya paling besar, yaitu 1,5 persen. Karena ini Lebaran maka permintaan angkutan besar,” kata dia.

Suhariyanto menjelaskan, dari 82 kota IHK, seluruhnya mengalami inflasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya momen Idul Fitri.

‎Dia menyatakan, inflasi tertinggi berada di Tarakan sebesar 2,71 persen, inflasi terendah yaitu Medan dan Pekanbaru sebesar 0,01 persen.

“Kita berharap deflasi akan terjadi, biasanya setelah Lebaran. Salah satu kita jaga adalah di akhir tahun. Selama Januari-Juni inflasi terus terjaga dan sesuai dengan sasaran,” tandas dia.

adan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi pada Juni 2018 sebesar 0,59 persen. Angka ini lebih tinggi tinggi dibandingkan inflasi Mei 2018, yakni 0,21 persen. Namun ini lebih rendah dibandingkan Juni 2017 yang sebesar 0,69 persen.

Sementara itu, untuk inflasi tahun kalender sebesar 1,90 persen. Adapun inflasi tahun ke tahun (year on year) sebesar 3,12 persen. “Perkembangan harga komoditas pada Juni menunjukkan adanya peningkatan,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto, Senin (2/7/2018).

Dari 82 kota yang dihitung Indeks Harga Konsumen (IHK), seluruh kota telah mengalami inflasi. “Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 2,71 persen dan terendah terjadi di Medan dan Pekanbaru sebesar 0,01 persen,” kata dia.

Dia melanjutkan, inflasi pada Ramadan 2018 ini lebih rendah dibandingkan 2017 dan 2016 yang masing-masing sama, yakni 0,69 persen.

“Inflasi pada Juni ini terendah. Lebih rendah pada Lebaran, Juni 2017 juga dari posisi bulan Lebaran 2016. Ini merupakan angka yang menggembirakan karena itu kita perlu apresiasi kinerja pemerintah dan BI yang mengantisipasi dan berbagai rencana,” pungkasnya.

 

 

Komentar