Saat Instruksi Palsu Pahlawan Bung Tomo Kelabui Sekutu

Saya cuma bisa tertegun saat orang tua itu berucap, “Pekik merdeka bukan sembari tangan mengepal, tapi tangan terbuka,” kata dia suatu sore dalam satu kesempatan di Surabaya.

Ucapan itu keluar dari bibir Bambang Sulistomo, salah satu putra dari pahlawan Nasional, Sutomo atau yang dikenal dengan Bung Tomo. Menurutnya, tangan terbuka seperti seorang Muslim takbir memulai shalat, bukan tanpa tujuan yang mulia.

“Tangan terbuka mengartikan seruan untuk membela kebenaran dan mengajak kebaikan,” ujarnya menambahkan. Menurutnya, hal itu menjadi ritual wajib bagi para arek Suroboyo semasa Surabaya dalam darurat perang. Cerita itu dikisahkan sang ayah serta keluarga yang membesarkannya.

Bahkan menurutnya, perang 10 November bisa saja terjadi selama tiga hari kalau saja arek Suroboyo tidak pintar mengelabui tentara sekutu. Salah satu kecerdikan yang dibuat sang ayah, Sutomo, adalah dengan memberikan instruksi palsu dalam komandonya yang tersiar melalui radio-radio rakyat.

“Bung Tomo menyerukan, tolong perbantukan sektor kiri yang kehabisan senjata. Padahal kebalikannya, di kirilah amunisi melimpah,” ujarnya. Bila tidak demikian, katanya, ia yakin Surabaya sudah rata dengan tanah hanya dalam tempo tiga hari peperangan.

Menurut pria yang saat ini tergabung dalam Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional itu, ia mengaku sangat bangga dengan kebesaran Kota Surabaya. Menurutnya, Surabaya selalu membekaskan kenangan. Semua generasi muda yang berkunjung ke Surabaya, diharapnya mampu membekaskan nilai-nilai patriotis di kehidupan dewasa ini.

Tak banyak yang tahu, Bung Tomo sebelumnya adalah seorang wartawan yang aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah, di antaranya: Harian Soeara Oemoem, Harian berbahasa Jawa Ekspres, Mingguan Pembela Rakyat, Majalah Poestaka Timoer, menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi Kantor Berita pendudukan Jepang Domei, dan pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

Bung Tomo meninggal dunia di Makkah saat menunaikan ibadah haji pada 7 Oktober 1981. Setahun kemudian, jenazah pahlawan nasional itu dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan di pemakaman umum Ngagel, Surabaya. Komplek Makam terlihat asri dengan kebersihan yang selalu dijaga. Menurut salah satu pemelihara makam, komplek makam Bung Tomo akan ramai pada haul dan diperingatinya hari Pahlawan.

Gedung Internatio

Lokasinya berada di Surabaya utara, sebelah barat Jembatan Merah (antara Stasiun Jembatan Merah dan Jembatan Merah Plaza). Aslinya, gedung ini bernama Internationale Crediet-en Handelvereeniging “Rotterdam”. Bangunan ini awalnya merupakan pusat perniagaan Belanda yang tergabung dalam Asosiasi Komersial dan kredit Internasional Belanda.

Gedung menjadi salah satu tempat pengelolaan perdagangan di masa penjajahan Belanda. Diperkirakan, bangunan ini dibangun pada dekade 1927 dan rampung pada 1931. Penggarapnya adalah Arsitek asal Belanda, Ir Frans Johan Louwrens Ghijsels, arsitek juga dikenal sebagai perancang Stasiun Kota Jakarta.

Gedung Internatio menjadi saksi bisu pengepungan arek Suroboyo yang berhimpun di Jembatan Merah. Peristiwa penembakan AWS Mallaby, juga terjadi persis di depan gedung tersebut.

Tugu Pahlawan dan Museum 10 November

Berlokasi di Jalan Pahlawan, Tugu Pahlawan terletak persis di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Monumen berbentuk paku terbalik setinggi 43 meter (45 Yard) ini dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar. Ini adalah lokasi paling populer bagi para wisatawan sejarah dari berbagai daerah. Sebab di sinilah semua riwayat dan peninggalan perang 10 November dimuseumkan.

Tugu Pahlawan dibangun di atas runtuhan Kantor Raad Van Justititie atau Gedung Pengadilan Tinggi pada masa penjajahan Belanda. Tujuan pembangunan monumen ini untuk mengenang sejarah perjuangan Arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan dalam momen bersejarah 10 November 1945.

Di Museum 10 November, kita masih dapat melihat beberapa peninggalan milik Bung Tomo dan bendera laskar pejuang ketika pertempuran bersejarah berlangsung. Salah satu peninggalan yang menjadi favorit, adalah mobil kuno yang pernah dipakai Bung Tomo. (Sumber www.republika.co.id)

Komentar