Foto ; Jawapos

Lakon Gusur Bukit Duri ; Ahimsa Satyagraha

Jabaronline.com – Betapa dahsyat saya lihat malam itu, Rabu 5 Oktober 2016, sekitat pukul 20.00 malam, dibukit duri dipinggir kali Ciliwung, sekelompok anak2 laki perempuan  berusia  beragam , 4 – 16 tahunan, didampingi para guru dan pak Sandyawan Sumardi, mereka bernyanyi, menari, menghentakan  kaki-kaki dengan ritmis, menyanyikan lagu NYANYIAN AKAR RUMPUT,  syair ” nyanyiam akar rumput warga pinggiran Indonesia, // bersatu kita teguh// bercerai kita runtuh// enyahkan ketakutan//enyahkan kegalauan// hadapi tirani pembebasan// jalani pikiran pembebasan//tegakkan keyakinan// kebenaran di hatimu //wujudkan  keadilan. Selain itu juga tampil kelompok musik MARJINAL dengan lagu-lagu perlawanan sosialnya.

Pemandangan itu buat saya menggetarkan, karen mereka bernyanyi lepas, tidak ada beban kesedihan, ekspresi dendam padahal sejak tanggal 28 September 2016 selama hampir seminggu sanggar CILIWUNG, yang berada dipinggir kali Ciliwung sebagai tempat anak-anak jalanan itu belajar menjadi manusia seutuhnya, bersama dengan rumah-rumah warga lain sepanjang kali Ciliwung dihajar rata dengan tanah menggunakan backhoe. Penggusuran yang menggunakan pendekatan fisik dan paksaan itu tidak dilawan dengan kekerasan , kalaupun ada amarah pembimbing mereka Sandyawan mengarahkan kemarahan itu dengan melampiaskan memukul benda-benda apapun, kentongan, panci, drum, ember apapun yang bisa dijadikan pelampiasan energi marah, sedih. Energi marah tidak diarahan kepada fisik petugas tramtib dengan melempar mereka mengunakan batu, kayu atau benda keras lainnya, justru kekerasan aparat membongkar rumah-rumah mereka direspon dengan musik tetabuhan. Gelegak kebencian, marah dilampiaskan malam itu dengan menyanyikan lagu-lagu balada rakyat.

Anak-anak menyanyi, menari melawan dengan sadar penuh praktek kekerasan negara. Mereka melawan secara kultural. Mereka tidak mau kalah dan tunduk dengan kekerasan itu sendiri. Saya mengingat kekerasan yang dilakukan aparat negara dimanapun akan menimbulkan trauma ketakutan dan sikap membenci yang pada tingkat tertentu bisa memunculkan sikap anti pada pemerintah.

Gerakan kultural damai melawan kekerasan ini mengingatkan kita pada gerakan Mohandas Karamchand Gandhi yang dikenal sebagai Mahatma Gandhi yang berarti maha (guru), atma (jiwa), Gandhi yang menganjurkan gerakan ahimsa (tanpa kekerasan) , dan juga satyagraha (sikap teguh pada kebenaran). Gandhi tetap dikenang dari zaman zaman, ia yg lahir 1869 di Gujarat , India. Sampai saat ini dikenang sebagai tokoh penganjur anti kekerasan,  gerakan cinta damai ternyata melekat erat dikenang dari zaman kezaman.

Korban gusur Bukit Duri memang kalah, tetapi mereka memenangkan pertempuran dalam wilayah lain, yaitu pertempuran dalam menanamkan nilai-nilai anti kekerasan, perdamaian. Pemerintah yang lalim dan gemar melakukan kekerasan akan tiba saatnya dipermalukan sendiri dengan sikapnya yang arogan itu. Waktu yang akan membuktikannya.

 

Salam damai,

Sugeng Teguh Santoso, SH

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*