Pemuda dan Tantangan Sosial Ekonomi

Pemuda dan Tantangan Sosial Ekonomi

“Jika ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah keadaan pemudanya hari ini”. (Dr. Yusuf Al-Qardhawi)

Pemuda merupakan aset bangsa yang harus dijaga dan diberdayakan. Pikirannya yang masih jernih, fisik yang kuat dan memiliki semangat yang tinggi perlu dibina dan diarahkan kepada hal-hal positif agar menjadi pemuda yang berkarakter dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia, peran pemuda sangat dominan dalam memperjuangkan kemerdekaan untuk melepaskan diri dari penjajahan kolonial belanda. Dan tonggak sejarah kebangkitannya para pemuda adalah sumpah pemuda, dimana pada tanggal 28 oktober 1928, pemuda-pemuda dari berbagai daerah di indonesia berkumpul dalam kongres pemuda ke-2 di jakarta yang melahirkan ikrar sumpah pemuda yang dimaknai sebagai momentum bersatunya seluruh pemuda untuk berjuang menuju kemerdekaan indonesia. Mereka bertekad untuk satu tujuan yang sama yaitu satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa indonesia.
Semangat juang para pemuda dulu menginginkan adanya persatuan, tentu patut dicontoh dan harus terus dikobarkan semangatnya kepada pemuda di era milenial saat ini. Karena anak mudalah yang akan menentukan arah perjalanan bangsa ini kedepan. Pertanyaaannya sekarang, apakah generasi pemuda milenial yang dikenal dengan “anak zaman now” sudah memiliki pemikiran dan semangat juang yang sama dengan pemuda saat perjuangan kemerdekaan melalui gagasan dan karyanya atau sekarang sedang sibuk dengan dunianya sendiri yang lebih egois, hedonis dan pragmatis yang selalu menunjukan strata sosial serta terjebak dalam narkoba, alkohol, tawuran anak sekolah, malas, mudah menyerah dan putus asa akibat dari terkontaminasi modernisasi yang salah pergaulan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar tahun 2020 hingga 2030 di indonesia akan terjadi bonus demografi dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang jumlah penduduk usia non produktif. Dijelaskan penduduk usia produktif adalah penduduk yang memiliki usia antara 15 sampai 64 tahun. Sedangkan penduduk usia non produktif adalah penduduk yang memiliki usia dibawah 15 tahun dan 65 tahun usia keatas.
Puncak bonus demografi akan terjadi pada tahun 2028-2030 dengan rasio ketergantungan 44 persen artinya 100 orang usia produktif akan menanggung 44 orang usia non produktif. Atau lebih sederhana lagi 2 atau 3 orang usia produktif menanggung 1 orang usia non produktif. Komposisi penduduk indonesia saat itu, lebih banyak penduduk usia produktif yang didominasi oleh para pemuda.
Melimpahnya usia produktif harus didukung dari aspek sosial ekonomi oleh pemerintah mulai dari menyiapkan lapangan usaha, pendidikan yang layak, kesehatan yang memadai, inovasi dan softskill. Sehingga diperoleh sumber daya manusia yang berkualitas, yang tentunya akan meningkatkan pendapatan perkapita, berkurangnya tingkat pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi. Jika tidak, maka jangan heran akan terjadi tingkat pengangguran tinggi, meningkatnya angka kriminalitas dan terjadi konflik sosial yang pada akhirnya penduduk usia produktif akan menjadi beban suatu negara. Maka, yang akan terjadi Bukan Bonus demografi yang didapat malah bencana demografi yang diperoleh.
Bagi pemuda milenial, tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengembangkan potensi diri dalam menghadapi perkembangan dunia yang sangat pesat terutama di bidang sosial ekonomi dan teknologi agar dapat menjauhkan dampak negatif dari bonus demografi. Jika hanya mengandalkan dari pemerintah tidaklah cukup, diperlukan kreativitas dari tiap pemuda untuk mengembangkan kemampuan dan keahllian sehingga mampu menciptakan lapangan usaha sendiri tanpa tergantung pada keterbatasan tersedianya lapangan pekerjaan.
Sangat ironis jika negara indonesia yang memiliki potensi dan kesempatan untuk menjadi negara maju tidak bisa memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Pemerintah sebagai agent of development perlu mencontoh keberhasilan china dan korea selatan dalam memanfaatkan bonus demografi. Dimana keberhasilan China dan korea selatan dapat dilihat dari menciptakan lapangan pekerjaan dengan membangun industri rumah tangga yang memproduksi berbagai komponen peralatan elektronik, sehingga penduduk usia produktif tidak menganggur dan dapat diberdayakan untuk pembangunan ekonomi suatu negara.
Menghadapi tantangan ekonomi kedepan, salah satu solusi alternatifnya adalah pengembangan ekonomi kreatif. Dalam cetak biru pengembangan ekonomi kreatif nasional 2009-2015(2008) ekonomi kreatif merupakan era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri dan ekonomi informasi yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
Terbukti keberhasilan capaian ekonomi kreatif 2016 (data BPS), kontribusi dari sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) 2016 mencapai 922,58 triliun atau tumbuh sebesar 7,44 persen. Dibandingkan tahun sebelumnya sektor ekonomi kreatif hanya tumbuh 7,38 persen atau menyumbang 852,56 triliun terhadap PDB. Walaupun BPS belum merilis capaian ekonomi kreatif 2017 tapi dapat diprediksi capaian ekonomi kreatif akan terus meningkat di tahun selanjutnya. Subsektor ekonomi kreatif ada 15 subsektor yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, industri pakaian, film, game, musik, seni pertunjukan, percetakan, komputer, televisi, riset dan terakhir kuliner. Dari 15 sub sektor ekonomi kreatif, ada 3 sub sektor ekonomi kreatif yang memberikan sumbangan terbesar terhadap PDB yaitu kuliner, industri pakaian dan kerajinan. Ini menunjukan bahwa perkembangan ekonomi kreatif dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi indonesia.
Melihat kemajuan ini, pemuda indonesia harus ikut andil dalam pengembangan ekonomi kreatif dengan meningkatkan kualitas diri, daya pikir kreatif, pengetahuan dan wawasan sehingga bonus demografi dapat dicapai dengan mudah, menjadikan masa depan indonesia menjadi negara maju dan sejahtera.

Hendra,S.Si
Statistisi di BPS Kabupaten Bandung

Komentar