Hadirkan Kurikulum Untuk Orang Tua Murid Dan Pedagang Di Sekolah

Penulis: Dwi Arifin S.Pd (Pendiri Ektrakulikulier Jurnalistik di SMPN 3 Margahayu, Kab.Bandung)

Berawal dari terdengarnya percakapan antara pedagang di sekolah dengan siswa Sekolah Menengah Pertama saat membeli jajanan sekolah. Terdengar percakapan yang berunsur pornografi, dan sang sang siswapun terlihat menikmati percakapan dengan pedagang sekolah. Mereka asyik berbincang dan bercanda sambil menunggu jajanan khas sunda (batagor) dipotong, dibumbui dan dikemas.

Yang jadi masalah adalah sang pedagang sekolah bercanda melebihi batas, dengan menggunakan candaan berunsur pornografi. Secara tidak langsung sang siswa akan mengkonsumsi dan terkontaminasi dengan candaan yang kotor itu. Dari kejadian ini perlulah adanya (kurikulum) pendidikan atau pembinaan yang berkelanjutan dari pihak pimpinan sekolah kepada pedagang sekolah. Agar pedang sekolah berperan aktif menghadirkan optimalisasi suasana pendidikan di lingkungan sekolah.

Kerena dari segi umur rata-rata pedang sekolahpun lebih dewasa atau lebih tua, sehingga mereka dianggap orang tua oleh siswa didik.  Yang perkataannya didengar dan diyakini kebenarannya. Pedagang sekolah dengan peran utamanya sebagai orang tua disekolah yang menyediakan kebutuhan konsumsi saat jam istirahat di sekolahnya. Cuman bedanya mereka tidak seperti guru-gurunya dikelas yang mengajarkan ilmu mata pelajaran. “Jangan sampai dengan adanya oknum pedagang sekolah yang bercanda dengan unsur pornografi, mengotori pikiran para siswa khususnya siswa SMP, karena mereka masih polos dan lugu. Beda dengan siswa SMA/K yang lebih dewasa dan bisa menyaring informasi dari lingkungan sekitar untuk kebaikan dirinya“

Bagimana bentuk kurikulum pendidikan bagi pedagang sekolah? cukup dibentuk kurikulum dengan memadukan unsur pemikiran perwakilan guru, wali kelas, dan pimpinan sekolah. Dan disosialisasikan dalam bentuk silahturahmi akbar atau seminar khusus pedagang sekolah yang diselenggarakan secara berkala. Baik setiap bulanan atau triwulanan. Semoga dengan ini terjalin kesinergisan antara pedagang sekolah dan pihak sekolah untuk mencerdaskan bangsa dan mencegah terjadinya barang terlarang berdedar kepada siswa.

Disisi lain juga, pihak orang tua harus mampu berperan sebagai pendidik, bagi anak-anaknya saat dirumah. Namun banyaknya orang tua siswa yang tidak mengetahui cara mendidik, karena mereka tidak pernah belajar secara formal ilmu pedagogik. Maka perlulah pihak sekolah atau pemerintah mengahadirkan kurikulum pendidikan untuk orang tua siswa. Agar mereka memiliki panduan terarah mendidik anak yang disayangi. Pelaksanaan kurikulumnya bisa berupa seminar atau silahturami akbar antara orang tua siswa, pedagang sekolah dan pihak sekolah. Dengan pelaksanaan ini, akan terjalin segitiga model pendidikan yang sinergis dan berkelanjutan dengan silahturahmi yang mengahadirkan keharmonisan dalam bingkai edukasi. Antara pihak sekolah, pedagang sekolah dan orang tua siswa.

Semoga dengan ini akan terwujudnya Tujuan Pendidikan menurut “Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*