Penemuan Lorong Laskar Hizbullah Masa Penjajahan Belanda Di Ponpes Al-Fatah

Ciomas (Headlinebogor.com) – Warga Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah, Kampung Sukajaya Kretek Rt 01/02, Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor digemparkan atas penemuan terowongan tua, Rabu (10/05) lalu. Terowongan ini diduga sudah ada sejak zaman perang sebagai markas Laskar Hizbullah.

Dalam sejarahnya, Laskar Hizbullah menjadi bagian dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Anggota laskar ini dikenal pemberani dan tak kenal menyerah. Gara-gara hal itu lah, keberadaan lorong di Ponpes Al Fatah mengundang perhatian dan penasaran warga sekitar. Mereka berbondong- bondong mendatangi lokasi untuk mengetahui kebenarannya. Sebab dari informasi yang beredar, lorong tua ini menjadi tempat bertahannya dan pembantaian para pejuang Indonesia pada saat melawan Belanda.

Lubang berdiameter setengah meter ini pertama kali ditemukan tukang bangunan. Saat itu dia sedang melakukan pengerjaan pembangunan masjid seluas 810 meter persegi di lingkungan pesantren tersebut. Setelah ditelisik, lorong ini dapat menghubungkan ketiga lokasi berbeda dilingkungan sekolah yang menampung 40 santriawan dan 60 santriwati. Yakni, 50 meter menghubungkan ke arah barat, tepat di bawah pohon belimbing dan kearah utara, tepatnya di bagian tengah kamar para santriawan. Bahkan, pada bagian bawah lubang itu terdapat satu ruangan kamar, berdingding batu bata berwarna merah, dengan kondisi gelap, dingin, dan lembap, serta berair.

Ketua Santri Ponpes Al-Fatah Abdul Khoir menuturkan, penemuan lorong berawal dari kesulitan tukang bangunan membongkar batu. Pembongkaran batu dilakukan untuk membuat pencakar ayam atau pondasi masjid. Namun, tidak bisa dipecahkan sehingga harus dipindahkan. “Saat dipindahkan terlihat suatu lubang yang cukup untuk dimasuki tubuh manusia,” Ujarnya.

Karena penasaran, sambung Abdul, lubang itupun diselidiki lebih jauh. Yaitu, dengan menyisir bagian lorong. Abdul mengungkapkan, penemuan itu membuat masyarakat sekitar melihat dan ingin mengetahui yang sebenarnya. “Bahkan, informasi yang saya dapatkan dari sesepuh, lokasi lorong ini memang tempat pembantaian saat masa perang pada zaman Belanda, puluhan tahun silam,” paparnya.

Namun begitu, kata dia, kepastian dan kebenaran tersebut belum dapat dipastikan. Hal itu, lantaran pihaknya belum menelisik lebih dalam lagi atas temuan tersebut. “Kalaupun tempat ini akan dijadikan tempat pariwisata, karena penemuan lorong ini, kami para pengurus merasa tidak akan mengizinkan, karena lokasi ini merupakan tempat belajar dan mengajar,” tukasnya.

Sementara itu, seorang santriawan Ponpes Al-Fatah, Rizki Batam (17) mengaku, dirinya secara langsung pernah memasuki lubang tersebut. “Saat memasuki lubang itu saya bersama empat santri lain harus berjalan jongkok, dan terdapat jalan cagak didalam lubang itu,” katanya.

Batam menambahkan, untuk jalur lorong bagian kanan terdapat seperti sebuah kamar, dengan dingding batu bata. Dan, bagian permukaannya berbentuk beton. “Saat masuk lebih dalam, saya bisa berdiri dengan tinggi kurang lebih satu setengah meter diatas kepala saya. Intinya, didalam terowongan ini terdapat ruangan,” bebernya.

 

 

 

(Metropolitan.id)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*