Angin Baru pada Sarjana di Tepian Baskom

Kali ini kisah Tegar dilanjutkan oleh Ega Septiani Putri, salah satu mahasiswa FKIP di Universitas Pakuan. Ini membuktikan bahwa siapa saja boleh melanjutkan kisah Tegar. Tidak ada sekat pembatas antara penulis dan pembacanya.

“Ada ruh yang sama pada cerita Tegar yang dibuat oleh Ega ini. Ceritanya pun masih sama dengan visi saya dalam karakter Tegar yang ingin disampaikan pada para pembaca.” Wildan Mubarok.
Begitulah alasan penulis sebelumnya memberi kesempatan pada Ega Septiani Putri untuk melanjutkan kisah Tegar, sarjana pendidikan itu. Selain itu, Ega mampu membangun sudut pandang Tegar bukan dari sudut pandang seorang wanita. Walaupun ia seorang wanita ia mampu mempertahankan karakter dari tokoh Tegar itu sendiri. Kelenturan dalam kata-katanya juga seirama dengan visi misi yang sama pada pemikiran penulis sebelumnya.

Isi ceritanya masih seputar kehidupan dari Tegar, sarjana pendidikan yang berjuang pada perihal masa depan. Kesederhanaannya melihat dunia masih disuguhkan di dalam novel ini. Kata-kata bijak Daaris masih terbayang di pikiran Tegar. Begitulah kata-kata, terkadang raganya sudah berjarak namun perkataan bijaknya selalu berpijak di benak.

Kali ini Tegar akan dihadapi pada sebuah pilihan. Terkadang memilih adalah hal tersulit dalam kehidupan. Harus punya mental yang kuat, jangan sampai ada sesal agar pilihan itu bermakna.

Kini, Tegar pun sudah melanjutkan kisahnya. Tinggal pembacalah yang menilai bagaimana kisahnya berlanjut. Hidup itu asyik bila dinilai oleh orang lain. Tapi hati-hati, penilaian bisa menerbitkan kadang pula bisa menenggelamkan. Membacalah selagi diri mengenal aksara.

Bogor, 10 Januari 2018

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*