Episode Sang Pembela : Obat Lelah dari Tuhan

Oleh Sugeng Teguh Santoso, SH

(Calon Wakil Walikota Bogor)

Selasa, 30 Januari 2018 aktivitas saya cukup padat. Seharian penuh saya berkutat di Jakarta mengikuti rapat Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Malamnya, saya harus mengejar waktu untuk sampai di Bogor. Saat itu, saya memutuskan menggunakan commuter line. Selain murah meriah, moda tersebut yang memiliki waktu tempuh terukur. Ketimbang taksi online atau kendaraan umum lainnya yang sulit diprediksi.

Ya, walaupun konsekuensinya saya harus rela berdiri sambil berdesak-desakan dengan penumpang lainnya sampai tiba di Stasiun Bogor. Dengan wajah lelah saya menuruni gerbong kereta dan menuju pangkalan ojek yang tak jauh dari stasiun.

Malam itu, saya memilih Pak Adung, salah satu tukang ojek yang biasa mangkal dekat Stasiun Bogor. Di tengah hujan, saya memintanya mengantarkan ke posko di Jalan Kresna Raya 52.

Tapi sebelum tancap gas, tiba-tiba terdengar suara lelaki menyebut nama saya.

“Pak Sugeng ya, calon Walikota Bogor”sapa lelaki itu.

Saya pun menoleh, sambil tersenyum melihat ke arah  sumber suara itu. Rupanya, ada Pak Tono, tukang ojek pangkalan yang mengenali saya sebagai Calon Walikota.

Saya pun ingat kalau lelaki itu pernah mengantarkan saya dari Stasiun Bogor menuju tempat rapat di wilayah Kota Bogor. Berhubung lapar, waktu itu saya mengajaknya makan malam di sebuah warung soto di Pasar Bogor. Rupanya, peristiwa itu masih berbekas dibenaknya,  sehingga ia menyapa saya kembali saat di Staisun Bogor.

Sungguh, semua rasa lelah pun mendadak hilang begitu saya menyempatkan waktu bercengkrama sambil berfoto dengan para tukang ojek pangkalan. Pertemuan singkat ini pun seolah menjadi obat lelah dari Tuhan setelah seharian penuh beraktivitas.

“Ternyata masih ada yang mengenali saya sebagai calon walikota”
gumam saya dalam hati.

Saat Deklarasi pasangan Dadang Iskandar Danubrata dan Sugeng Teguh Santoso sebagai calon walikota dan wakil walikota Bogor 2018, saya pernah mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang merasakan penderitaan rakyat.

Lapar ketika warga lapar, kehujanan ketika warga kena hujan. Dan, hal itu telah saya buktikan jauh sebelum pencalonan ini dilakukan. Saya buktikan kalau tak ada yang beda antara saya dengan para tukang ojek juga dengan masyarakat lainnya. Kena panas, hujan, bahkan merasa lelah karena harus ikut desak desakan naik kereta juga masih saya lalui sampai sekarang.

Saya memahami betul amanat penderitaan rakyat. Saya memahami kebutuhan warga Kota Bogor. Kelelahan, kehujanan, kena angin malam yang sungguhan bukan pura-pura.

Saya percaya akan ada obat lelah selanjutnya dari Tuhan selagi kita bersungguh-sungguh melakukan pekerjaan di jalan yang benar.

Salam

#bogorbersama #bogoruntukrakyat

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*