CERPEN : Lentera di Tengah Kegelapan

Lentera di Tengah Kegelapan

 

Waktu menunjukan pukul 05.00 WIB. Mentari pagi belum menunjukan cahayanya, namun, aku sudah memasukkan barang-barangku ke dalam mobil Avanzaku. Kamera, Tripod, Lighting dan perlengkapan lainnya sudah kumasukkan ke dalam mobil. “Sepertinya sudah semua,” gumamku.

Namaku Indra, aku adalah seorang wartawan koran swasta. Aku sering dikirim ke luar kota untuk tugasku, memang melelahkan, tapi aku menikmatinya. Aku bisa menikmati indah dan luasnya dunia ini. Walaupun beberapa tugasku kadang sedikit berbahaya, aku tetap menikmatinya.

Saat ini aku ditugaskan ke Garut untuk meliput peristiwa banjir bandang di sana. Itu tugas yang berat karena aku tinggal di Semarang. Aku harus menempuh jarak yang cukup jauh. Namun tugas tetaplah tugas, aku harus tetap menjalaninya.

Semua sudah kupersiapkan, saatnya aku berangkat. Aku mengendarai mobilku dan segera berangkat. Aku memilih untuk menyetir mobilku sendiri karena kupikir itu lebih nyaman daripada aku harus naik kereta membawa barang-barang ini.

Dua jam berlalu di perjalanan, aku beristirahat sebentar di rest area tol Cipali. Karena belum sarapan, aku membeli nasi bungkus di salah satu restoran rest area tersebut, lalu melanjutkan perjalanan.

Karena jalan tol yang macetnya bukan main, aku memutuskan untuk melewati jalan tikus, jalan yang jarang diketahui banyak orang walaupun aku hampir tidak ingat jalannya. Aku tetap memilih untuk lewat jalan ini karena kemacetan di tol sangat membuang-buang waktu.

Sudah tiga jam aku berputar-putar melewati jalan tikus ini, namun rambu petunjuk arah Garut belum juga tampak. Aku mulai khawatir jika aku tersesat, dan kumulai bertanya kepada orang untuk mencari jalan. “Permisi Pak, apa Anda tahu jalan menuju arah Garut?” Tanyaku.

Bapak-bapak itu menjawab seperti tidak peduli dan sibuk memainkan ponselnya. “Kurang tahu deh, kayaknya depan belok kanan” Kata Bapak-bapak itu sambil menunjukkan arah yang dimaksud.

Aku segera melihat arah yang ditujunya. “Baiklah, terima kasih, Pak.” Aku segera menutup kaca mobilku dan menuju jalan yang dimaksud. Tapi, bukannya aku menemukan jalan ke luar, aku malah makin tersesat di jalan tikus ini dan aku malah memasuki suatu pedalaman.

Hatiku berdegup kencang, yang disebabkan rasa panik karena aku tidak bisa menemukan jalanku, aku sudah tidak melihat rumah-rumah di sampingku, kini tergantikan oleh pohon yang cukup rimbun. Waktu pun sudah menunjukan sekitar pukul 13.00. Aku benar-benar tersesat entah berada di mana.

Saat aku sedang melewati jalan berlumpur, tiba-tiba ban mobilku terjebak di kubangan lumpur yang cukup dalam. Aku mencoba menginjak gas dengan kuat, namun sepertinya mobilku terjebak dalam kubangan lumpur itu. Akhirnya, aku memutuskan untuk ke luar dari mobil untuk memeriksanya langsung.

Apa yang kulihat sangat mengenaskan, ban mobilku terjebak cukup dalam di lumpur itu, mungkin kurang lebih sedalam tiga puluh centimeter. Aku mencoba melihat sekitarku, namun aku tidak melihat apa-apa. Hanya ada pohon besar sejauh pandanganku.

Aku menghela nafas, lalu masuk lagi ke mobilku dan mencoba menginjak pedal gasnya lagi namun hasilnya sia-sia. Ban mobilku malah terjebak lebih dalam. Ditambah bumperku yang sudah kotor terkena lumpur.

Akhirnya, aku menyerah dan keluar dari mobilku, menguncinya dan pergi untuk mencari pertolongan. Ku gulung celana jeans agar tidak kotor terkena lumpur. Aku menempuh jarak yang cukup jauh yang bahkan aku tak bisa menghitungnya.

Saat aku sudah hampir kehilangan harapan, aku melihat ada pergerakan pada semak-semak. Pada awalnya aku takut, namun aku memberanikan diri untuk melihat ada apa di balik semak-semak.

Ternyata ada dua anak yang sedang bersembunyi di balik pohon besar, “Itu pasti mereka yang menggerakkan semak-semak.” gumamku. Saat aku akan mendekati mereka, mereka lari.

“Tungguuuuu….!” Teriakku dan langsung mengejar mereka. Aku mengejar mereka untuk meminta pertolongan. Mereka berlari dengan cepat, namun, aku bisa mengimbanginya. Saat aku hampir bisa mengejar mereka, aku tersadar jika aku sudah berada di dusun  antah-berantah. Seketika kuberhenti dan menatap sekeliling dengan penuh nanar.

Apa yang kulihat hampir tidak bisa kupercaya. Aku melihat beberapa rumah dengan kondisi yang sangat tidak layak ditempati dan kudapati juga orang-orang yang berjalan lemas dan berbaju kumal. Kemudian, aku melihat dua anak itu yang memasuki salah satu rumah tersebut. Namun, aku sudah tidak peduli karena pandanganku terfokus dengan situasi ini.

Aku berjalan perlahan, memahami situasi di sini. Terlihat anak-anak lain yang sedang bermain di depan rumah mereka dengan baju robek-robek. Lalu, aku melihat seorang wanita hamil sedang makan nasi basi yang bau menyengat. Namun, ia memakannya dengan penuh syukur sementara yang lainnya hanya melihatnya dengan tatapan iri dan jijik.

Saat aku sedang berjalan, tiba-tiba aku merasa seseorang meraih dan menepuk bahuku dari belakang. “Siapa itu?” Reflekku dan langsung berbalik. Ternyata orang yang menepuk bahuku adalah orang tua renta yang memakai tongkat dengan postur yang sudah bungkuk.

Saha anjeun?” Tanya orang tersebut dengan bahasa Sundanya yang kental. Terlihat lalat di tangan dan kepalanya namun ia tidak memperdulikannya.

“Ma…ma…maaf mengganggu. Saya tidak bermaksud mengagetkan kalian.” ucapanku terbata-bata. Tubuhku langsung tegang, takut apa yang akan terjadi selanjutnya.

Orang tua itu langsung mengangkat tangannya sebahu dan menempuk bahuku lagi. “Teu kunanaon, abdi ngartos.”

Aku pun sedikit rileks dan memberanikan diri untuk bertanya “Kalau saya boleh tahu, ini daerah mana, ya?” Lalu bertanya lagi “Apa Anda bisa bahasa Indonesia? Karena aku tidak bisa berbicara bahasamu.”

“Iya saya bisa” Jawab orang tua itu, lalu melanjutkan “Saya kurang tahu, kita tidak pernah pergi jauh dari kampung ini.” Kata orang tua itu. ”Biar saya ajak kamu ke tempat saya, kamu pasti lelah. Mari, ikuti saya.” Lalu, orang tua itu berjalan dan aku pun mengikutinya.

Dia memasuki rumah yang sangat mengenaskan, -rumahnya tidak dicat masih semen- lantainya pun masih tanah. Aku mengikutinya, di rumah tersebut terdapat dua anak laki-laki yang sedang tertidur beralaskan kumpulan kapas usang.

Orang tua itu mengisyaratkanku untuk segera duduk di tanah, mulanya aku ragu, namun, akhirnya aku pun duduk di tanah. Orang tua itu juga mengikutiku duduk tanpa rasa ragu.

Orang tua itu pun langsung bertanya. “Siapa nama Anda, anak muda?” Tanyanya.

“Namaku Indra, Indra Herlangga” Jawabku. Karena rasa ingin tahuku yang tinggi, aku langsung bertanya. “Jika boleh tahu, siapa Anda dan apa yang terjadi di sini?”

Ekpresi orang tua itu memurung “Nama saya Yusuf. Pernah terjadi kebakaran besar disini. Namun tidak ada yang memperdulikan kita, mereka seperti pura-pura tidak tahu. Jadi, begini-lah keadaan kita sekarang” jawab orang tua itu dengan nada lemas.

Setelah mendengar itu, aku pun merasa kaget bercampur dengan prihatin. Aku langsung menengok ke luar dan melihat kembali apa yang telah aku lihat. Anak-anak yang terlihat kurus tidak terawat. Orang-orang yang duduk di depan rumah mereka melihat dengan pandangan kosong. Mengetahui mereka tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi seperti ini.

Aku hampir berkaca-kaca, tetapi, aku langsung memalingkan pandanganku pada Pak Yusuf. “Mengapa kalian tinggal di sini? Maksudku, kenapa kalian tidak pindah ke tempat yang lebih layak?”

“Apa yang bisa kita buat. Tidak akan ada yang mau menerima kita, Setiap orang memandang kita dengan pandangan jijik, hina. Kita hanya bisa tinggal di sini dan menjalani hidup dengan penuh syukur.” Jawab Pak Yusuf sambil mengelus salah satu anak yang sedang tertidur di dekatnya.

Aku termenung, Pak Yusuf benar. Tidak akan ada yang mau menerima mereka dengan keadaan seperti itu. Sekali lagi aku menengok ke luar, aku melihat anak-anak yang bermain itu tertawa satu sama lain. Orang-orang yang mengamati mereka pun ikut tersenyum. Aku yakin mereka orang tua anak-anak itu. Rasa senang orang tua mereka karena anak-anak mereka bisa tetap senang dengan apapun keadaannya. Kedua anak yang tadi kukejar pun ada bersama mereka.

Hatiku tersentuh, aku ikut tersenyum melihat anak-anak itu tertawa. Separah apapun keadaan mereka. Mereka masih bisa menemukan kebahagiaan walaupun keadaan mereka yang tidak layak.

“Inilah kita” Pak Yusuf memotong pandanganku. “Inilah kita sehari-hari. Kita melakukan hal sederhana untuk mendapatkan hiburan, kita tidak perlu sesuatu yang mahal nan mewah untuk mendapat kebahagiaan. Kita punya sesama.”

“Tapi bagaimana dengan kehidupan kalian yang…” Aku ingin bertanya tapi tidak sanggup melanjutkannya.

“Kita tetap bersyukur, ini adalah berkah yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Suatu kenikmatan yang dinamakan kebersamaan”  Pak Yusuf tersenyum saat mengatakan itu.

Kata-kata itu menghantamku seperti martil. Pak Yusuf benar, Kau tidak perlu barang mahal untuk mendapatkan kebahagian. Terkadang justru hal-hal yang sederhanalah yang dapat membuatmu tetap bahagia.

Lalu, aku ingat sesuatu, aku tidak bisa membiarkan mereka terus-menerus di kondisi seperti ini. Aku mampu mengubah taraf hidup mereka. Aku seorang wartawan, aku bisa melakukan sesuatu. “Maaf pak, saya mau pergi dulu. Saya akan kembali.”

Pak Yusuf mengangguk, lalu, aku langsung lari menuju mobilku. Kondisi mobilku masih sama seperti saat aku meninggalkannya. Tapi, aku tidak peduli, aku langsung mengambil kameraku dan nasi bungkus yang belum sempat kumakan dan langsung kembali lagi ke kampung itu. Tepatnya ke rumah Pak Yusuf.

“Pak..Bolehkah saya izin memotret tempat ini? Aku seorang wartawan” Izinku sambil menunjukkan kartu pers..

“Kau boleh melakukannya. Silakan saja” Kata Pak Yusuf.

Lalu, aku mulai memotret kegiatan mereka. Mulai dari canda tawa anak-anak sampai orang-orang yang sedang tertidur. Aku pun memberikan nasi bungkusku pada mereka. Mereka lebih membutuhkannya, walaupun tidak banyak, mereka sangat senang bisa makan nasi bungkusku.

Setelah aku memotret mereka, Pak Yusuf menghampiriku. “Apakah kau butuh bantuan dengan mobilmu?”

Aku kaget dan langsung bertanya “Bapak tahu dari mana?”

“Kedua anak yang kau kejar memberi tahuku mobilmu terjebak.” Kata Pak Yusuf

Aku turut senang ada orang yang mau membantuku. Aku mengarahkan mereka pada mobilku. Kita sempat mendapat kesulitan, namun, akhirnya mobilku dapat terbebas dari genangan lumpur itu. Ini adalah berkat kerjasama kampung ini.

Setelah mobilku terbebas, aku memutuskan untuk tidak menuju Garut, tapi kembali ke Semarang. Setelah aku berpamitan dengan masyarakat setempat, aku segera kembali ke Semarang.

Aku menempuh perjalanan sekitar 5 jam sejak aku pergi dari kampung itu, aku segera menuju kantorku untuk memperlihatkan pada managerku apa yang aku alami. Pada awalnya managerku menolak mentah-mentah, namun setelah ku bujuk akhirnya dia setuju.

Keesokan harinya hal yang telah kuliput di publikasikan, berita itu dengan cepat menyebar kemana-mana. Bahkan sampai luar kota Semarang. Pada akhirnya masyarakat mengadakan penggalangan dana untuk membantu desa itu. Aku pun turut ikut serta dalam penggalangan dana tersebut. Berbagai masyarakat dari berbagai sudut kota datang ke kampung itu untuk memberi bantuannya. Sedikit demi sedikit kualitas hidup kampung itu meningkat.

Aku merasa bersyukur menjadi wartawan. Inilah yang harusnya dilakukan wartawan. Menjadi sarana informasi masyarakat untuk mengungkap apa yang tidak diketahui masyarakat sebelumnya. Aku merasa senang bisa bermanfaat bagi orang lain dengan pekerjaanku. Perasaan ini tidak bisa diungkapkan,

bagaimana senangnya aku membantu orang-orang yang memang pantas mendapat kesenangan lebih. Membantu mereka langsung tanpa ada keinginan untuk dipuji-puji

5 bulan berlalu semenjak aku mempublikasikan berita itu, aku dalam perjalanan menuju desa itu untuk melihat keadaan mereka sekarang. Setelah aku sampai ke desa itu, aku tidak bisa mempercayai mataku.

Rumah-rumah mereka sudah bagus lengkap dengan cat dan interior-interior yang berguna. Baju mereka layak pakai dan tubuh mereka bersih tanpa adanya lalat di sekeliling mereka. Anak-anak menggunakan seragam menuju sekolah, Muka mereka pun lebih ceria dan lebih semangat. Aku hanya bisa tersenyum terharu melihat pemandangan ini.

Lalu, aku merasa ada yang menepuk bahuku lagi, aku langsung tersenyum dan berbalik. Pak Yusuf tersenyum ke arahku. “Terima kasih anak muda, aku tahu kau punya hati yang murni”

“Tidak, Bapak lah yang sudah membuka mata hatiku untuk melihat dunia dengan lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki. Apa yang kuperbuat tidaklah cukup untuk kalian.” Aku menjawab.

“Ini sudah cukup, sekali lagi aku berterima kasih. Kau adalah Pahlawan kampung ini” ujar Pak Yusuf.Aku ingin membantah, tapi setelah Pak Yusuf mengakatan itu, aku melihat suatu gapura di depan kampung itu, bertuliskan “Desa Indra.” Seketika hatiku luluh-lantah bercampur haru melihat namaku terukir di gapura itu.

Aku tersenyum dan sekali lagi merasa bersyukur dengan apa yang aku miliki. Perjalanan inilah yang telah mengubah hidupku. Syukuri apa yang kau punya hari ini. Bersabarlah, Hari di mana kau akan bahagia akan datang.

 

 

 

Penulis : Mochammad Rizki Afrilio (XI Multimedia 1/SMK Informatika Pesat)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*