E-Stories “KOMIK”

Hai, namaku Sofia. Hobiku yang paling kusenangi adalah membaca komik. Setiap hari aku membaca komik. Pokoknya tak lengkap hariku kalau satu hari saja tak membaca komk. Malah karena sangat hobi baca komik, sering aku sampai lupa makan siang dan mengerjakan PR, hehehe…

Kalian tahu kawan, gara-gara hobi membaca komik ini, aku sering ditegur mama. Katanya, aku boleh punya hobi baca komik, tapi jangan sampai tugas-tugas lain terbengkalai.

“Kalau kamu terus-terusan seperti ini, mama akan buang komik-komik kamu!” begitu sahutnya. Aku cuma bisa diam saja sambil manyun.

Biasanya, setelah mama menegurku seperti itu, aku langsung pergi ke kamar lalu duduk di meja belajar sambil komat kamit menahan marah pada mama. Tapi tak lama setelahnya, kukeluarkan buku komik dari tas sekolah, lalu mulai membacanya.

Oke, oke, oke. Aku akui kalau aku agak bandel dalam hal ini. Tapi aku kan tidak pernah bolos sekolah. Hanya beberapa kali saja aku lupa mengerjakan PR. Selebihnya aku kan anak yang rajin belajar dan bersekolah. Sering membantu ibu, kalau tidak sedang baca komik.

Jadi, tak masalah dong kalau aku senang membaca komik???

“Sofi, bisa tolong bantu mama?! Mama lagi ada di kebun!” Mamaku menyahut dari arah belakang rumah.

Aku diam saja. Komik Topeng Kaca yang kupinjam dari taman baca di dekat sekolah belum selesai kubaca. Terdengar sahutan mama yang kedua, baru kujawab.

“Iya ma! Sebentar,” kataku sambil setengah hati bangun dari tempat dudukku.

Sesampainya di kebun belakang rumah, mama menyuruhku mengambilkan seutas tali untuk mengikat sesuatu. Entah mengikat apa.

“Talinya di mana ma?” tanyaku padanya.

“Coba kamu cari di dekat rak piring,” kata mamaku. “Biasanya mama nyimpan tali di situ.”

Aku mendengus. Mengeluh karena malas kalau harus disuruh-suruh seperti ini. Harusnya kan mama menyiapkan semua perlengkapan sebelum berkebun. Kadang aku disuruh ambilkan ember, ambilkan plastik, pasang ini, buang itu, pegang ini, lihat itu, dan lain-lain, dan lain-lain. Wah, banyak deh.

Mama… mama…. Gak boleh lihat aku santai sedikit ya? Keluhku.

“Sini talinya Sofi,” kata mama.

Aku menyerahkan tali yang dipinta mama.

“Nah, sekarang, coba tolong pegang batang pohon ini sebentar,” pinta mama. Napasnya sudah agak terengah-engah karena lelah.

“Ah, mama…. Aku kan baru pulang sekolah ma….”rengekku. “Cape dong ma. Masa disuruh pegangin pohon begini?! Mana berat lagi!” Aku protes.

“Iya, sayang… sebentar ya. Mama minta tolong, sebentaaar saja ya,” pinta mama.

Mulutku mendadak maju 5 senti. Aku tak suka kalau mama sudah mulai seperti ini.

Kemudian mama menggunakan tali yang baru saja kuambilkan tadi lalu mengikat batang pohon yang tidak besar tapi juga tidak bisa disebut kecil dengan dua bilah potongan bambu yang ada di dekatnya.

“Sudah ya ma,” rengekku. “Pegel nih…. Mau ngerjain PR ma.”

“Oh, kamu ada PR? PR apa?”

Aku diam sejenak, berpikir mata pelajaran apa yang biasanya ada PR. “Matematika,” jawabku lantang. Aku bohong. Aku ingin segera pergi ke kamar dan kembali baca komik.

“Wah, pasti susah ya, sayang?”

“Iya ma. Susah. Tadi aja pas di sekolah masih banyak teman-teman yang belum ngerti penjelasan Bu Tika,” kataku sambil membawa-bawa nama guru kelasku. Aduh, makin banyak saja kebohonganku….

“Ya sudah, nanti setelah selesai di sini mama akan bantu kamu kerjakan PR ya,” kata mama sambil tersenyum. “Nah, kamu… boleh… balik… ke kamar…” Napas mama terputus-putus. Pasti lelah sekali.

“Oke ma, Sofi ke kamar dulu ya.” Asyiiik…. Ini kesempatanku untuk kembali membaca komik Topeng Kaca kesukaanku.

Kalian tahu, kawan, aku suka membaca komik. Komik apapun kubaca. Dari yang terbitan Jepang sampai terbitan Indonesia aku suka baca. Dari yang bercerita tentang kelucuan hingga yang serius dan horor. Aku sangat suka.

Tapi di antara semuanya, komik romantis yang paling kusuka. Kalian tahu kenapa?  Karena biasanya tokoh-tokoh yang ada di dalamnya ganteng-ganteng dan cantik-cantik banget. Badannya bagus-bagus. Pokoknya sempurna deh. Aku suka banget…

Tidak berapa lama aku sudah berada di kamar. Kubuka kembali komik yang tadi baru sebentar kubaca.

Tadi sudah halaman berapa ya? Oiya, kalau tak salah baru halaman 5 deh…

Dengan konsentrasi penuh kubaca komik Topeng Kaca. Kunikmati halaman demi halaman komik serial cantik itu. Membacanya memberikan sensasi tersendiri bagikur. Aku membayangkan aku ada di dalam komik itu. Ikut serta dalam cerita. Ikut menari dan berperan dalam sebuah drama musikal. Bayanganku terus terbang, di antara para tokoh-tokoh yang ada dalam cerita.

Wah, menyenangkan sekali…

Namun beberapa saat kemudian, aku malah teringat wajah mama. Senyumnya yang manis dan tulus. Kata-katanya yang tak pernah kasar. Sikapnya yang lembut. Sesekali memang agak galak, tapi itu karena aku memang perlu diberi ketegasan. Itu karena aku memang agak bandel.

Teringat wajah mama, aku malah merasa bersalah karena tidak terlalu banyak membantu. Aku jarang sekali embantu mama ketika berada di rumah. Bahkan untuk merapkan kamarku sendiri, aku sering merasa malas. Mama yang sering melakukannya untukku.

Bahkan tadi ketika mama sedang kesulitan mengurusi pohon yang bermasalah, aku hanya membantu mengambilkan tali saja. itupun sambil mendengus kesal.

Ya ampun…

Teringat wajah mama aku malah makin merasa bersalah. Begitu banyak tugas dan pekerjaan yang mama urusi di rumah, tapi tetap saja mama bersedia membantuku mengerjakan PR dan tugas sekolah.

Ya ampun…

Aku hanya ingat komik. Aku hanya ingat kesenangan dan hobiku sendiri. Aku tidak memikirkan kesulitan mama. Anak seperti apa aku ini ya?

“Sofi,” sayup-sayup terdengar suara mama. Kini bukan hanya wajahnya yang terlintas dalam ingatan. Kini suaranyapun ikut terdengar di telingaku. “Sofi? Sofi?”

Aku terkejut. Aku terbangun, Oh, ternyata barusan aku tertidur ya?

Mama sudah ada di depan pintu kamarku.

“Sofi? Mama sudah beres. Kamu mau dibantu mengerjakan PR?” tanya mama.

“I, iya ma,” jawabku gugup. Antara kaget dan bingung. “I, ini PR-ku.”

Kukeluarkan buku paket dari dalam tas. “Dari tadi Sofi bolak balik halaman di buku ini tapi beneran gak ngerti ma… Hehehe…”

“Sini coba mama lihat…”

Kuberikan buku yang tadi sedapatnya kuraih dari dalam tas. Aku tersenyum lebar. Menyeringai, mungkin. Menutupi kegugupanku.

Mama melihat bukuku. Kemudian dia menatapku. Lalu dia menatap bukuku lagi.

“Kamu… serius ini PRnya?” tanya mama.

“Iya,” jawabku mantap.

Mamaku tak berkata-kata lagi. Dia hanya menunjukkan padaku buku yang baru saja kuberikan padanya: SEJARAH.

Ups…

–oo00oo–

E-Stories by Kak Bayu | Tokomissita.com

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*