Puisi ; Puji Cahyati

Merumput Rubrik

Bagaimana adanya saat ini?

Minyak curah bercecer pada tapak kaki, tapak tangan, bahkan tertelan

Terinjak kaki-kaki pembual

Terpeper tangan-tangan kelancungan

Menelan bahkan memuntahkan makanan seharian

Bagaimanakah adanya saat ini?

Ya, tiang pancang terasa roboh

Rumah-rumah terasa pincang

Taman tiada berbunga

Tiada berpohon

Tiada berbuah

Lalu, bagaimanakah cara bercakap?

Hei tuan, hei nyonya

Bisakah kau rendahkan suaramu

Dihadapmu sedang ada Yang Maha Perkasa

Hei diriku dan kalian yang biasa

Bisakah kau turunkan dagumu

Dihadapmu sedang ada Yang Maha Tahu

Kosong, kosong

Sampai kapan kau berdiri pada kemunafikan

Sampai kapan kau mengikat hati tak berpondasi

Sampai kapan kau berjalan tanpa melihat rubrik

Tak usah banyak berkilah lagi

Tak perlu menyilap lidah

Kau harus tahu,

Benahi rumahmu!

Aku bilang urusi pekaranganmu!

Lisanmu tak lagi kelu

Kau kaya akan hidup

PC

Simpul Buana

Dengarlah ini cerita berasal dari bening menjadi busa terdampar di tanah dan lenyap terkena terik yang tak sengaja hadir diantara kerikil debu aspal

Bukan kau salah paham,

Ternyata langit masih gelap, terlalu cepat untuk berdiam di tempat ini menanti risik angin dalam sampul pesonanya,

Mentari masih belum menyapa pagi, senyumnya masih bersembunyi dalam kabut pekat kini.

Namun lihatlah kesenyapan yang begitu indah, diantara kerlip lampu dan senandung AsmaNya

Perlahan menyambut dengan keelokan warna lukisanNya.

Buana yang slalu cantik rupanya, jika aku ingin bercerita pada kau, biarkan aku pejamkan mata saja, biar hati yang bicara tanpa bibirku yang berkata.
Buana yang tak lelah berkelana, jika perubahan tak buatmu tersenyum, dan tak buat orang lain tersenyum, untuk apa kehidupan? tak ingin ku mengukir hujan di garistawa
Buana yang berhati mulia, maafkan diri ini hanya bisa bersujud dalam ridhoNya, mengadahkan tangan dalam simpul doa, lantunan ayat suci yang menjadi bekal panjang di setiap asmaNya

Hai dinding kehangatan ceritakanlah bagaimana aku terlahir

Sepasang bola mata pama

Beribu garis menyungging gingsul

Terasa tanpa tahu rupanya

Terhitung kontrak dariku sampai kerangka batang pohonan

Kau pemilik bangunan kokoh yang kau sebut mutiara sederhana

Tanpa terlihat siapa pemilikNya.

Ketika tak ada lagi rasa hangat

Pasti guncangan sedang menghampiri

Dan kau sebut itu kiamat

Dari terang sampai gelap dan tak kelihatan

Tapi kau sadar setidaknya kau pernah ngontrak, dan kau punya bangunan

Matahari, bulan, dan bintang adalah kita

Dan sentralnya buana

Puisi Perempuan

Pertemuan berawal untuk pengentasan kemiskinan

Yang genggaman mengungkap aspirasi untuk merumput rubrik

Tak ada praduga tuk dipertemukan kembali dalam hutan raya milik kota Bogor

Dengan karung goni deklarasi, Kamu ini bagaimana dan aku harus bagaimana

Bersama empat manusia purba

Tak berakhir di ujung hentakan tongkat bambu

Maka ketika jurnalistik di bungkam, sastra akan berbicara

Ketika problema perempuan hadir dalam warta, empat manusia purba ada dan

Kau ku kenang

Bukan perkara lagi jika keributan antara dialog wayang dan sinden dalam pewayangan yang berteriak

Cermin, AkuTak Berdosa, Cermin, AkuTak Berdosa

Dan yang terjadi

Bumi gonjang ganjing rantaian karya perantara perempuan berpuisi

Aksi peduli Aceh

Haturkan syukur pada partisipan yang berjalan berkilometer dalam aksi

Tak luput atas kuasaNya atas karuniaNya Yang Pengasih

Semilir angin mengirimkan hembusan nafas pada Riung Sastra bersama  delapan Maria Zaitun

Satu pengantin, tujuh masa lalu, dan satu penggerak

Maria Zaitun namanya

Melahirkan para pewajah dalam merahimi bumi

Yang dirindukan oleh Simpul Buana

Bukan kau salah paham

Maka alunan sexsophon bercerita

Ada Sungai bening, pasir putih

Lingkungan suara perempuan

Sampai kepada wajah kita

 

 

 

 

Biodata Singkat Penulis

Puji cahyati lahir di Bekasi, Jawa Barat, 21 Februari 1995. Mahasiswa Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP, Universitas Pakuan Bogor, Indonesia. Anggota komunitas Perempuan Puisi Bogor. Hobi menulis puisi. Sedang proses pembuatan buku Antologi Puisi bersama Perempuan Pusi. Beberapa karya yang di muat dalam buku Antologi Puisi Nusantara Serumpun Sejiwa Kuala Lumpur Merumput Rubrik, Simpul Buana, dan Puisi Perempuan. Pernah mengikuti lomba baca Puisi di berbagai acara sastra di kampus dan luar kampus.            

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*