Blusukan, Dadang-Sugeng Jaring Aspirasi Warga

BOGOR – Pasangan calon (paslon) nomor urut 4, Dadang Iskandar Danubrata dan Sugeng Teguh Santoso hari ini blusukan di dua tempat terpisah di Kecamatan Bogor Timur dan Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (06/03/18).

Dimulai sejak pukul 09.00 WIB, Calon Walikota (Cawalkot) Bogor Dadang Iskandar Danubrata memulai kegiatan menyapa warga di Gang Pesantren, Tajur, Kelurahan Bogor Timur.

Di lokasi tersebut, Dadang berdialog dengan sejumlah warga yang didominasi kalangan ibu rumah tangga. Seperti sebelumnya, usai mengenalkan diri dan menyampaikan program pembaruan Kota Bogor dimulai dari jaminan pendidikan, lapangan kerja, kebutuhan tempat tinggal hingga kesehatan gratis untuk warga tak mampu, Dadang kemudian menjadi teman curhat banyak warga.

Ia pun merekam setiap aspirasi yang disampaikan warga, nantinya akan ditindaklanjuti melalui mesin politiknya di Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Bogor dan sebagai masukan jika nantinya terpilih sebagai kepala daerah.

Beragam masukan dari warga yang dicatat dan direkam Dadang tersebut, merupakan kegiatan rutin dan hal yang wajib ia lakukan setiap mendatangi lokasi kampanye.

“Terkait keluhan warga, insya Allah, saya mohon doanya akan memperjuangkan. Masalah pendidikan yang masih dirasa mahal, seperti adanya pungutan di sekolah negeri di tingkat SMA, kedepan akan kita lakukan upaya untuk meringankan beban warga tak mampu. Sumbernya dari mana? Bisa dari APBD Kota Bogor, atau program CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggungjawab sosial perusahaan,” ucapnya didepan warga Tajur.

Demikian halnya dengan layanan rumah sakit yang masih sering dikeluhkan warga soal keterbatasan kamar dan kerapnya penolakan pasien dengan alasan kamar kelas 3 penuh. Kata Dadang, jika nantinya dirinya dan Sugeng Teguh Santoso terpilih, akan mengupayakan program rumah sakit tanpa klas.

“Rumah sakit tanpa kelas merupakan solusi menjawab keluahan warga masyarakat terkait penuhnya ruangan kelas 3 yang kerap kali jadi pengalaman banyak orang. Dengan ditiadakannya kelas di rumah sakit umum daerah, semua ruangan punya kewajiban sama melayani pasien tanpa membedakan latarbelakang sosial,” tuturnya.

Usai berkeliling di pemukiman padat penduduk di Tajur, Dadang melanjutkan kunjungan ke pengolahan limbah bekas yang dikelola warga. Sebagai bentuk apresiasi, Dadang membeli sejumlah produk, diantaranya rompi dari daur ulang sampah berbahan pembungkus permen bekas yang kemudian dikenakannya.

Seterusnya, di Pulo Armin, Kelurahan Baranangsiang, politisi PDI Perjuangan tersebut kembali kunjungi usaha kecil limbah milik Tajudin. Di tempat tersebut, Tajudin (50) menyampaikan suka duka olah limbah yang dilakukannya.

“Saya menitipkan aspirasi, jika nantinya Kang Dadang dan Kang Sugeng jadi, saya mohon agar pengusaha kecil seperti saya diperhatikan, terutama untuk bantuan modal. Sebab, selama ini kami tidak pernah mendapat tawaran bantuan usaha kecil dari pemerintah daerah,” ujarnya yang kemudian disanggupi Dadang dengan menganggukan kepala.

Usai kegiatan blusukan bertemu sejumlah warga di pelataran jalan gang sempit di Pulo Armin, cawalkot usungan PDI Perjuangan dan PKB tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke Katulampa RT 05, RW09, masih di kecamatan yang sama. Di kediaman Entis (55) warga setempat, Dadang bersama warga menggelar dengar pendapat dan menyantap nasi liwet bersama.

Terpisah, Calon Wakil Walikota (Cawawalkot) Bogor, Sugeng Teguh Santoso juga melakukan aksi blusukan yang sama di Kecamatan Bogor Tengah. Tampil sederhana, menggunakan kaos putih, dengan alas kaki sandal dan berpeci hitam, Sugeng datang dibonceng ojek online ke RT01, RW06, Gang Ardio, Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Setelah tiba di lokasi, Sugeng berjalan kaki menyapa masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) seperti pedagang sayur, pedagang buah, tukang becak, hingga tukang sapu jalanan. Memposisikan diri sebagai sahabat, mantan aktivis yang juga advokat senior ini menanyakan pendapatan hingga pengeluaran sehari-hari untuk kebutuhan sekolah anak hingga makan.

“Saya sebagai pengemudi becak, kesehariannya hanya dapat rata-rata Rp50 ribu. Angka itu jelas tidak mencukupi buat makan sehari-hari dan sekolahkan anak,” ujar abang becak yang mengenalkan diri bernama Kurniawan (40).

Tak beda dengan Abdul, tukang sapi jalanan. Pengakuannya, dari profesi yang dilakoninya ia hanya mendapat upah Rp65 ribu.

“Dengan kewajiban menyekolahkan anak 3, dan untuk makan sehari-hari, boleh dibilang pas-pasan. Kami berharap jika nantinya Pak Sugeng jadi, bisa memperjuangkan kami,” harapnya.

Menanggapi curhat warga MBR, Sugeng mohon didoakan agar dirinya bisa mengemban amanat masyarakat kecil.

“Saya juga berasal dari masyarakat kecil. Saya tahu dan pernah merasakan keringat harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Mohon doanya, kami akan komitmen melakukan perubahan menyejahterakan masyarakat,” tuntas Sugeng. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*