Mengenal Lebih Dekat Dengan Sosok Edgar Suratman, Paslon Nomor Urut 2

BOGOR – Nama Edgar Suratman di kalangan birokrat Pemerintah Kota Bogor sudah tidak asing lagi.  Kang Edgar  sapaan akrabnya dikenal sebagai sosok yang mudah akrab dengan siapapun sepertinya dengan politisi, aktivis, akademisi termasuk  dan berbagai kalangan masyarakat lainnya, tak terkecuali Istri tercinta nya.

Edgar adalah anak ke tujuh dari 8 bersaudara. Ayahnya Raden Adang Kosim Sumadipraja seorang Pamong Praja di Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor, dan Ibunda nya Siti Romlah seorang Ustadzah.Pria kelahiran 12 Juli 1957, lahir dan besar di Bogor tulen, pendidikan SD dan SMP nya di kabupaten Bogor, tepatnya di wilayah Jonggol. Pada tahun pertamanya dirinya sekolah di  tingkat atas, dia pindah ke Kota Bogor dan melanjutkan pendidikan nya di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negri Bogor, di lanjutkan studi strata Sarjana nya di Universitas Ibnu Khaldun dan lulus pada tahun 1989 dengan Gelar Sarjana Ekonomi (S.E). Lalu pada 1992 Dirinya mulai mengawali pengabdian nya kepada Masyarakat dengan menjadi pelayan Warga di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Rasa cinta terhadap dunia pendidikan Dia buktikan dengan mengejar Gelar Magister, terbukti di salah satu Universitas di Jakarta, dia berhasil menyabet Gelar Master Management (M.M).

Ketika sebagian orang berebut ingin menduduki jabatan. Bahkan, tidak sedikit orang mengejar jabatan dengan cara yang tidak sehat, demi memuaskan hasrat kekuasaan dengan memanfaatkan jabatan nya untuk memperkaya diri. Hal berbeda di tunjukan oleh Edgar Suratman, yang memiliki pemahaman, bahwa jabatan yang memberikan otoritas kepada seseorang merupakan sebuah amanah, serta selayaknya amanah merupakan titipan yang bersifat sementara.  Meski karier nya dalam Birokrat cukup cemerlang, merangkak dari bawah hingga mencapai puncaknya menduduki eselon 2 di lingkungan Pemkot Bogor, namun keseharian nya tetap sederhana, bahkan, Edgar dikenal sebagai sosok pribadi yang berjiwa sosial. Mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bogor itu, kini melanjutkan pengabdian ya untuk masyarakat Kota Bogor langsung menuju pucuk Pimpinan di pemerintahan Eksekutif, dengan berikhtiar sebagai Calon Wali kota dan harapan Qobul dalam doanya, dirinya berharap di maktub kan menjadi Wali Kota Bogor Periode 2018-2023, sesuai dengan Tagline kampanye nya JADIKAN.

Calon Wali Kota dari jalur perseorangan itu, yang telah melalui proses pendidikan keluarga yang religius Ibunda nya seorang Ustadzah, dan Ayahnya sebagai Pamong Praja yang penuh disiplin. Menjadikan sisa usia ini hanya untuk beribadah semata-mata karena allah SWT, tak terkecuali dalam prosesnya menuju kursi orang no 1 di Kota Bogor. “Tujuan saya karena Allah, segala sesuatu itu saya landaskan hanya untuk keridhoan Allah SWT, saya sudah pasrahkan semuanya apapun hasilnya kersaning Gusti Allah,” kata Pria yang berpasangan dengan Sefwelly Ginandjar Djoyodiningrat sebagai Wakilnya, Rabu, 28 Maret 2018, di kediaman pribadinya.

Mantan Camat Bogor Barat periode 2001-2005 itu, mengusung Ngabogor sebagai pembentukan karekter, nilai – nilai kebaikan yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dirinya menyebut itu sebagai Ngabogor Bodas. Lalu, hubungan manusia dengan manusia, dia menyebut Ngabogor Bulao. Ada yang namanya Ngabogor Hejo, itu adalah hubungan manusia dengan alam yang dimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik secara personal maupoun kolektif. “Semua itu harus ada di diri kita, sebagai makhluk sosial ciptahan Allah SWT, saya selalu tanamkan itu kepada siapapun khususnya keluarga,” jelas Suami dari seorang istri yang bernama Susi Yusiana ini.

Sementara itu, sang istri menceritakan sosok Edgar adalah suami yang romantis, humoris, realistis dan penuh integritas dalam ke-Agamisan. Bahkan, dengan sabar dan tulus penuh ikhlasan, Edgar di samping kesibukannya sebagai pejabat publik, tidak pernah tertinggal untuk membimbing dan mengarahkan keluarga untuk selalu Thaat dan pasrah kepada Allah SWT sebagai sang pencipta. “Semenjak menikah, beliau ini tidak hanya membina, namun selalu membimbing saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk anak kami, dia percis seperti bapaknya dulu, aktive di masjid, berjiwa sosial dan sangat supel dalam pergaulan,”cerita ibunda dari Rakhmat Qorib ini.

Dalam keseharian nya Pria yang di beri gelar Rahman Qutub oleh Mursyid Thoriqoh Abah Anom Suryalaya ini tidak neko-neko, menurut Istri tercintanya itu, untuk menjaga keharmonisan keluarga kang Edgar selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan mendengarkan apapun yang di bicarakan olehnya atau anaknya. Jika bahasan mengenai masalah, pasti selalu memberikan solusi yang terbaik dengan bermusyawarah bersama. Dalam hal makanan pun Birokrat 25 tahun di Pemkot Bogor  itu sangat simple karena kesukaannya adalah nasi pecel. “Dari dulu sih, emang Bapak tidak begitu suka dengan makanan bernyawa seperti daging,” tambah Wanita yang setia menemani kang Edgar dari bulan September tahun 1989 sampai saat ini.

Mengarungi bahtera rumah tangga kurang lebih 29 tahun, banyak pengalaman yang di lalui bersama-sama, dari hal yang sangat membahagiakan, menjengkelkan dan peristiwa sedih pun pasangan ini selalu bertahan dan bersama untuk terus bertahan dalam kehidupan yang penuh pengabdian dengan latar beribadah kepada Allah SWT. Peristiwa yang memilukan kala itu, teh Susi bercerita, sebetulnya putranya bukan hanya Rakhmat Qorib tapi dirinya dan kang Edgar di karuniai 2 orang putra. Namun, kesabaran serta keimanan pasangan ini di uji, kala usia putranya yang pertama 16 tahun meninggalkan mereka terlebih dahulu ke Rahmat Allah SWT, secara sisi manusiawi mereka tentu merasa kehilangan. Namun karena Keimanan yang sangat kuat dan indikasi Khusnul khotimah terpancar dari almarhum putranya, kedua pasangan ini berserah diri dan mengikhlaskan putra sulungnya tersebut. Adapun hal yang menjengkelkan yang teh Susi terima dari kang Edgar, bukan lah hal yang menguras pikiran dan tenaga. Namun, sebagai sosok wanita yang mempunyai karakter lemah lembut, Teh Susi jarang mendapatkan perhatian ketika suami tercintanya itu bertugas mengabdi dan melayani masyarkat.” Mungkin saking sibuknya melayani Umat, kadang Bapak suka lupa ngabarin istrinya yang sangat khaawatir ini,” celotehnya, yang langsung di sambut kelakar tawa dari kang Edgar yang berada di sampingnya itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*