Punya Hak Sama, Kota Bogor Deklarasikan Kota Ramah ABK

Bogor (Headlinebogor.com) – Autisme di Kota Bogor kini bukan lagi hal yang menakutkan. Anak yang berkondisi autis tidak selayaknya disembunyikan dari masyarakat luas. Sebab, di balik kondisi kejiwaan mereka yang mengalami sedikit perbedaan,

sejatinya banyak kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki di berbagai bidang.

Salah satunya yang ditunjukkan dalam perayaan Hari Autis Sedunia, yang diadakan Pemkot Bogor, di Tugu Kujang dan Lawang Salapan, Minggu (02/04/2017).

Puluhan penyandang autis berkumpul untuk menunjukkan berbagai bakat yang dimiliki. Mulai seni menari, musik hingga orasi di depan masyarakat.

Bertajuk Light It Up Blue (LIUB), acara yang dihadiri ratusan orang dengan berbusana biru itu, diisi dengan deklarasi Kota Ramah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang dibacakan oleh Walikota Bogor Bima Arya.

Menurut Bima, tidak semua warga Kota Bogor paham bagaimana memperlakukan dan menumbuhkembangkan ABK.

Peringatan hari peduli autisme pun menjadi evaluasi untuk Pemkot Bogor, bahwa sejauh mana pemkot telah mendesain program dan infrastruktur yang ramah untuk ABK.

“Rangkaian kegiatan ini bisa memberikan pesan bagi semuanya untuk dapat lebih peduli lagi atas semua hal yang dibutuhkan anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya, di sela-sela sambutannya.

Di akhir sambutannya, suami Yane Ardian itu membacakan naskah deklarasi untuk Kota Ramah ABK.

Poin deklarasi tersebut, antara lain, menjamin setiap ABK untuk mendapatkan kesamaan akses ke segala aspek dalam kehidupan, sehingga nantinya bisa menjadi genarasi penerus yang andal.

Kemudian, menjamin ABK di Kota Bogor mendapatkan perlakuan yang manusiawi, mendapatkan pendidikan yang bermutu tanpa menerima perlakuan diskriminatif.

“ABK di Kota Bogor juga mendapat jaminan kebebasan untuk berinteraksi dengan siapa pun di lingkungan mana pun,” tuturnya.

Ketua panitia acara, Maya Rahmayanti mengibaratkan, mengurus ABK seperti memelihara ikan yang istimewa dalam sebuah akuarium.

Sebagai pengasuh diwajibkan untuk memeriksa kadar keasaman air dan kebersihan akuarium tersebut, untuk memastikan ikan istimewa itu tumbuh dan berkembang lebih besar.

Namun, menurutnya, sangat disayangkan jika ikan yang dianggap istimewa,  hanya dibesarkan di akuarium. Sebab, perlu juga berinteraksi dengan ikan-ikan lainnya.

Maka, perlu ditempatkan di kolam, bahkan samudra yang lebih luas, agar semakin banyak orang yang bisa melihat keistimewaannya.

“Dia perlu ditempa oleh kesulitan, dia perlu mendapatkan pelajaran berharga mengenai kehidupan di luar akuariumnya,” terangnya.

Ia menyebutkan bahwa Kota Bogor merupakan kota keempat di Indonesia, dan pertama di Jawa Barat yang berpartisipasi dalam kegiatan yang biasa diperingati oleh 162 negara di 72 benua itu.

Untuk kegiatan lanjutan, menurutnya, masih ada dua rangkaian lagi yang juga dilaksanakan pada bulan April.

“Ada tiga rangkaian besar acara di bulan April, diawali hari ini (kemarin, red). Kedua, tanggal 20 April, ‘Workshop Keberagaman ABK’ di Balaikota Bogor.

Kemudian, acara penutupan pada 30 April dengan special performance dan booth konsultasi di Mal Botani Square,” paparnya.

Dalam deklarasai tersebut, dimeriahkan pula dengan tabuhan perkusi, tari jaipong, dan pembacaan doa oleh ABK asal Kota Bogor.

 

 

 

(radar bogor/cr3/c/pojokjabar.com)

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*