Satpol PP vs PKL

CITEUREUP- Pasca penertiban badan jalan pasar Citeureup polisi pamong praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor (10/01) para pedagang kaki lima (PKL) pasar citeureup masih membandel dengan kembali berjualan di badan pasar.

Tak kapok barang jualanya dijarah satpol PP ratusan PKL ini kembali berjualan di badan jalan lantaran lokasi yang baru dianggap sepi penggunjung (pembeli).

“Tempat penampungan sementara yang disiapkan sepi penggunjung, mau tidak mau kita kembali kejalan untuk berjualan” unjar Sunardi (36) salah satu penjual ikan yang ditemui saat merapihkan dagangnya (19/01).

Sunardi mengaku, pasca menertiban lalu, dirinya tidak akan mendapat keuntungan kalau memaksakan diri untuk menempatkan tempat penampungan sementara itu.

“Tempat penampungannya jauh dari jalan utama pasar, penggunjung juga malas kedalamnya, ditambah lagi adanya pasar yang di atas, akhirnya dagangan saya tidak laku terjual” paparnya.

bahwa pemindahan para pedagang yang sebelumnya berjualan di depan pasar Citeureup berdampak merugi. “Seharusnya jangan dipindahkan ke belakang, kalau kita (red-pedagang) dipindahkan kesana jelas pembeli sepi, rugi nantinya, ” keluhnya.

“Kalau tidak berjualan keluarga mau makan apa, kalau memang harus menempati dipasar tahap dua nantinya, saya ingin harganya jangan terlalu mahal, biar pedagang yang ada dijalan juga mau masuk ke pasar,” harapnya.

Bapak tiga anak ini, mengaku sudah puluhan tahun berdagang ikan di Pasar Citeureup, sebelum adanya pembangunan  pasar tahap satu, dirinya memiliki kios. “Ada pembangunan pasar kios saya mau tidak mau ikut terbongkar, kalau sekarang harga kios mahal mas, walaupun saat ini diberikan tempat penampungan tapi kan hanya sementara, ujung-ujungnya dibongkar lagi, pedagang gulung tikar, ” paparnya.

Sementara itu, Mira Vatriana, Kepala Pasar Citeureup, penertiban ratusan PKL yang dilakukan oleh Satpol PP beberapa hari lalu, untuk mengoptimalkan kembali jalur angkutan umum masuk ke pasar. “Sebenarnya itu point utamanya, yang keduanya lebih menertibkan para pedagang agar masuk ke dalam pasar yang sudah disediakan oleh pihak pasar,” unjar Mira.

Untuk saat ini, lebih lanjut dia menjelaskan sudah disediakan tempat penampungan sementara untuk para pedagang yang berada di belakang pasar tahap satu. “Penampungan ini diberikan secara gratis sampai pembangunan tahap dua selesai, sedikit 100 pedagang akan mengisi tempat penampungan sementara,” pungkas dia.

Keluhan pun disampaikan oleh salah seorang pembeli, Nining Yuningsih,warga Kampung Babakan, Desa Tarikolot, Citeureup, Kabupaten Bogor. Menurutnya, jarak yang cukup jauh dari tempat pemberhentian angkutan umum menjadi kendalanya.

“Dari pada saya harus kedalam pasar tahap satu jauh, saya lebih memilih yang dekat saja ke pasar lama” unjar Nining.

Penempatan pedangan yang dirasa kurang tepat menjadi alasan mengapa PKL kembali berjualan di badan jalan. (JVS).*

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*