Transformer di Kota Debu

BOGOR-Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor merupakan kawasan pusat industri batu belah, setiap harinya dilalui kurang lebih 40 truk yang bermuatan batu, pasir, dan split. Pasalnya, dengan banyaknya perusahaan batu belah warga Parung Panjang menjadi sangat tersiksa karena banyaknya truk yang melintas.

Akibatnya, udara di daerah Parung Panjang kotor dan tidak sehat yang di dominasi debu yang sangat pekat sehingga menimbulkan berbagai penyakit, seperti sesak nafas. Bahkan, ketika cuaca terik, debu sangat pekat dan ketika hujan jalanan sangat licin dan menyebabkan rawan kecelakaan.

Dengan demikian, warga sekitar merasa cemas ketika berpergian atau mengendarai motor di sekitaran jalan tersebut.

Warga Parung Panjang selaku salah satu anggota peduli Parung Panjang, Rey mengaku bahwa sudah banyak melakukan aksi atau demonstrasi menolak truk-truk yang melintas di daerah Parung Panjang. Bahkan sempat menutup atau memblokade jalan agar truk-truk tidak dapat melintas dengan bermaksud melaksanakan aksi demo agar pihak yang berwenang dan juga pihak yang memiliki otoritas (pemerintah) dapat mengusut tuntas seluruh aktivitas tambang yang melayani jam operasional.

“Tuntutan pada orasi ini adalah mendesak agar pemerintah menerbitkan surat keterangan Bupati mengenai aturan jam operasional tambang dan mendesak agar pemerintah membangun jalur khusus tambang jangka lama,” kata Rey.

Namun menurut Rey, baru teralialisasi jam tayang mobil tapi semua itu hanya bertahan beberapa hari setelah itu truk-truk itu bebas melenggang di jalanan. Kondisi terkini di Parung Panjang adalah kemacetan panjang dan kemacetan ini di dominasi mobil truk. Lanjut Rey, dulu, Jalan Parung Panjang rusak parah tetapi, sekarang sudah adanya perbaikan dan mobil truk itu semakin banyak melenggang dengan kecepatan di bawah rata-rata. Yang menjadi salah satu faktor kecelakaan yang terjadi di Parung Panjang dan adanya solusi akhir dari permasalahan ini adalah jam tayang bagi truk.

“Jam tayang di sini maksudnya diberlakukannya buka tutup jalan, sehingga truk boleh melintas di jam yang sudah di tentukan. Namun nyatanya, tetap saja kecelakaan tidak dapat dihindari. Setelah diberlakukannya jam tayang kecelakaan justru semakin banyak terjadi, karena truk-truk tersebut saling berlomba mengejar waktu jam tayang operasional,” sambungnya

“Truk tersebut mempunyai target sendiri di perusahaannya masing-masing, banyak truk yang bermuatan lebih dari kapasitas yang di tentukan, belum lagi banyak supir truk yang masih di bawah umur yang dengan bebas mengendarai truk tersebut, sehingga banyak kasus kecelakaan yang di akibatkan karena supir di bawah umur,” ujarnya.

Raziapun dilakukan oleh aparat kepolisian, namun tetap saja masih banyak supir di bawah umur. Sembari menunggu realisasi jalur tambang dan jam tayang disepakati pada Minggu (23/10) bertempat di Aula kantor Kecamatan Parung Panjang yang di hadiri wakil Polres, tokoh masyarakat, Kepala Desa, dan Wakil Pimpinan Perusahaan Batu terkait jam operasional truk di larang melintas pada pukul 06.00 – 10.00 WIB dan pukul 16.00 – 20.00 WIB.

Demikian kesepakatan itu dibuat, untuk memberikan solusi untuk permasalahan ini. Rey mengungkapkan bahwa warga Parung Panjang hanya meminta jalur tambang untuk mobil truk agar dipisahkan dari masyarakat sekitar. “Namun, seperti yang kita tahu untuk merealisasikan semua itu di butuhkan waktu, tenaga dan biaya yang cukup besar. Kita tungggu solusi selanjutnya untuk membebaskan Parung Panjang dari debu dan truk-truk yang mencemaskan warga.” lanjutnya.

Sementara itu, senada dengan Rey seorang siswa SMA, Vina turut mencemaskan hal itu, “semoga segera ada solusi untuk masalah ini, agar warga Parung Panjang bisa menghirup udara yang bersih, sehat, dan tidak di dominasi oleh debu,” tutur Vina.

Setiap hari, ia melintas di jalan Parung Panjang untuk melaksanakan aktivitas sekolahnya, ia merasa tidak aman karena setiap melintas banyak debu belum lagi macet yang di dominasi mobil truk bermuatan. “Kedepannya Parung Panjang akan jauh lebih baik sehingga terhindar dari polusi dan mobil truk yang mengancam nyawa warga,” ungkap Vina.

(Muhammad Idris)

Komentar