Ustadz Ruslan Hafizhahullah: Maknai Pacsa Kemerdekaan Menurut Ulama

Reporter: Dwi Arifin

(Bandung)-, Banyaknya generasi muda yang salah dalam memaknai dan merayakan pasca kemerdekaan. Menjadi keperihatinan dari kalangan yang memahami makna kemerdekaan hingga peran melanjutkan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Ustadz Ruslan Gunawan Hafizhahullah dari Majelis Taklim Syubbanul Uluum menyampaikan pesan khusus kepada para pencari ilmu yang rutin hadir pada setiap malam sabtu di masjid SMAN 1 Margaasih.

Pada awal dakwahnya Ustadz Ruslan mengungkapkan “hakikat kemerdekaan bahwa kemerdekaan Indonesia, adalah “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, maka mengisinya yang terbaik, adalah bersyukur dengan ketaatan”

Pada dasarnya hakikat kemerdekaan menurut Al-qur’an dan hadist hingga kisah para nabi yaitu ketika manusia bertauhid, menundukan hawa nafsunya, ketergantungan kepada Alloh. Hakikat kemerdekaan yang seperti itu merupakan bahan renungan dari para ulama untuk umat saat ini yang diberi nikmat kemerdekaan.

Pada dasarnya manusia yang merdeka itu,  menurut hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia menundukkan hawa nafsunya untuk tunduk pada ajaran yang aku bawa (Al-Qur’an & As-sunnah).

Selanjutnya Ustadz Ruslan menceritakan tentang beberapa tokoh dalam keteladanan tentang memempertahankan kemerdekaan.

Pada zaman dulu ada utusan yang ditanya oleh raja Romawi, lalu utusan itu menjawab dengan teguhnya. “saya adalah utusan Alloh, yang diutus untuk melepaskan perbudakan manusia kepada manusia. Agar setiap mahluk hanya menyembah kepada Alloh” ungkapnya

Dan ada juga keteladaan dari tokoh islam. Pada masa penjajah Belanda dan penjajah Jepang. Salah satu penolakan yang sangat mencolok dari KH. Zaenal Mustofa, terhadap paraktik ritual penjajah Jepang yaitu menyembah Matahari dengan istilah Seikerei. Pada pagi hari, masyarakat bahkan ulama dikumpulkan di alun-alun Singaparna untuk Seikerei. Di bawah todongan senjata, semua ulama terpaksa melakukan perintah itu. Dengan cara memberi hormat kepada kaisar Jepang dengan menundukkan badan ke arah Tokyo. Zaenal Mustofa memulai perlawan fisik usai diminta melakukan upacara seikerei, dengan membungkukkan diri 90 derajat ke arah matahari terbit. Pahlawan yang menimba ilmu agama di Arab Saudi itu menilai seikerei bertentangan dengan ajaran Islam.

KH Zaenal Mustofa menganggap perbuatan itu bertentangan dengan ajaran Islam dan merusak tauhid karena telah mengubah arah kiblat. Satu-satunya yang berani menolak dan tetap membangkang ritual itu KHZ Mustofa. Menurutnya, ritual itu sudah termasuk menyembah Matahari sehingga kalau umat Islam melakukannya bisa jadi musyrik atau menyekutukan (Allah).

KHZ Mustofa menilai penjajah Jepang sudah keterlaluan. Sehingga beliau dan santri-santrinya mengadakan perlawanan terhadap penjajah Jepang.

Pada isi dakawahnya Ustadz Ruslan mengkritisi tentang perayaan hari kemerdekaan yang mengunakan bahan makanan untuk perlombaan, mulai dari mengambil uang receh dari pepaya/semangka, makan sambil berdiri, lomba futsal laki-laki dengan pakaian dan danan perempuan. Hingga hiburan malam yang mengumbar aurat mengundang syahwat.

Dan banyaknya generasi muda yang mengikuti gaya hidup kaum penjajah. Padahal Abdur rahman bin Auf mengajarkan sikap tegas agar tidak mengikuti sesuatu kaum yang tidak sejalan dengan islam.

Agar tidak salah dalam memaknai sejarah dan bersikap yang tepat pasca kemerdekaan Ustadz Ruslan juga mengarahkan untuk menambah ilmu sejarah dengan membaca buku API SEJARAH Penulis : Prof. Ahmad Mansur Suryanegara.Dalam buku tersebut Ahmad Mansur Suryanegara menceritakan bahwa Islam punya peran yang penting bahkan sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Buku ini berusaha menjelaskan bahwa islam itu mempunyai peran utama atau peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Pada ahir dakwahnya Ustadz Ruslan mengajak agar kita mampu memerdekaan diri dan orang sekitar. Coba lihat dari raut wajah orang tua kita, keluarga kita atau istri dan suami kita. Banyak wajah tersenyum bahagianya atau banyak raut kesedihan karena kita menjadi beban hidupnya.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*