Ibadah shalat merupakan tiang agama yang menjadi pembeda antara seorang mukmin dengan yang lainnya. Namun, shalat yang hanya menggugurkan kewajiban secara formalitas fiqih tanpa melibatkan kehadiran hati seringkali kehilangan esensinya. Khusyu, secara etimologi berarti tunduk, tenang, dan rendah diri. Dalam terminologi syariat, khusyu adalah keadaan hati yang menyadari kehadiran Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga melahirkan ketenangan pada anggota badan (thumaninah). Pentingnya khusyu bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh dari ibadah itu sendiri. Tanpa khusyu, shalat ibarat jasad tanpa nyawa. Para ulama salaf menekankan bahwa khusyu dimulai dari persiapan mental sebelum takbiratul ihram hingga salam terakhir. Berikut adalah bedah materi mendalam mengenai landasan dan tata cara mencapai khusyu berdasarkan nash-nash yang otentik.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. (QS. Al-Mu'minun: 1-2). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa khusyu dalam ayat ini mencakup rasa takut kepada Allah (al-khauf) dan ketenangan (as-sakinah). Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menyebutkan bahwa khusyu bertempat di dalam hati, yang dampaknya adalah engkau tidak menoleh ke kanan dan ke kiri saat bermunajat. Keberuntungan (al-falah) yang dijanjikan dalam ayat ini dikaitkan langsung dengan sifat khusyu, menunjukkan bahwa kesuksesan hakiki seorang hamba di akhirat sangat bergantung pada kualitas ketundukan hatinya saat menghadap Sang Khalik. Khusyu di sini bukan hanya diamnya fisik, melainkan fokusnya pikiran dari segala gangguan duniawi (al-laghwu).