Dalam diskursus teologi Islam, relasi antara hamba dan Pencipta sering kali dipahami melalui kacamata transendensi yang mutlak. Namun, Al-Quran memberikan dimensi lain yang sangat intim melalui konsep Qurb atau kedekatan. Fenomena ini bukan sekadar kedekatan jarak spasial yang mustahil bagi Zat yang Maha Suci dari ruang dan waktu, melainkan kedekatan ilmu, perlindungan, dan pengabulan doa. Para mufassir menekankan bahwa ketika seorang hamba mengangkat tangan dalam doa, ia sedang memasuki ruang dialogis yang paling sakral. Mari kita bedah landasan utama dari konsep ini yang termaktub dalam wahyu yang agung.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Secara semantik, ayat ini unik karena tidak menggunakan kata Qul atau katakanlah sebagaimana ayat-ayat tanya lainnya dalam Al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa antara Allah dan hamba yang berdoa tidak ada perantara sama sekali. Kedekatan ini bersifat langsung dan absolut, menegaskan bahwa Allah senantiasa memantau getaran hati setiap hamba-Nya.

Sumber: Muslimchannel