Dalam diskursus keislaman yang komprehensif, Hadis Jibril menempati posisi sentral sebagai Umm al-Sunnah atau induk dari seluruh sunnah nabawiyah. Hadis ini tidak sekadar meriwayatkan sebuah dialog, melainkan meletakkan fondasi epistemologis bagi struktur agama yang terdiri dari Islam, Iman, dan Ihsan. Jika Islam mengatur dimensi eksoteris (lahiriah) melalui syariat, dan Iman mengatur dimensi esoteris (keyakinan) melalui akidah, maka Ihsan hadir sebagai puncak piramida yang mengintegrasikan keduanya dalam bingkai kesadaran ketuhanan yang murni. Ihsan adalah manifestasi dari penghambaan yang melampaui batas-batas formalitas ritual, menuju pada kedalaman spiritualitas yang transformatif.

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ مِنْ حَدِيثِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

Terjemahan: Dia (Jibril) bertanya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah SAW menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim).

Sumber: Muslimchannel