Dalam diskursus keilmuan Islam, pemahaman terhadap struktur agama yang terdiri dari Islam, Iman, dan Ihsan merupakan fondasi utama bagi setiap penuntut ilmu. Ihsan, sebagai tingkatan tertinggi dalam trilogi tersebut, bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh yang menghidupkan setiap gerak lahiriah ibadah. Para ulama mufassir dan muhaddits sepakat bahwa tanpa Ihsan, sebuah peribadatan akan kehilangan esensi spiritualnya dan terjebak dalam formalitas fiqih semata. Artikel ini akan membedah secara mendalam dimensi Ihsan melalui pendekatan tekstual hadis dan korelasi ayat-ayat Al-Quran untuk merumuskan konsep muraqabah yang autentik.

Pondasi utama dalam memahami Ihsan merujuk pada dialog monumental antara Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW di hadapan para sahabat. Definisi ini menjadi titik tolak bagi seluruh pembahasan tasawuf dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam tradisi intelektual Islam.

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Sumber: Muslimchannel