Studi mengenai esensi keberagamaan tidak akan pernah mencapai titik paripurna tanpa melibatkan pembahasan mengenai Ihsan. Dalam hierarki spiritualitas Islam, Ihsan menempati posisi puncak setelah Islam dan Iman. Secara ontologis, Ihsan bukan sekadar perilaku baik secara moral, melainkan sebuah kesadaran transendental yang mengikat seorang hamba dengan Sang Pencipta dalam setiap tarikan napas dan gerak batinnya. Para ulama mufassir dan muhaddits memandang bahwa memahami Ihsan adalah kunci untuk membuka pintu makrifatullah yang hakiki. Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana hadis Jibril dan teks-teks pendukung lainnya membangun kerangka berpikir seorang muslim dalam mencapai derajat ketaatan yang paling murni.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
Terjemahan dan Syarah:
.png)
.png)