Dalam diskursus keislaman kontemporer, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan atas keesaan Allah, melainkan sebuah fondasi eksistensial yang menentukan arah hidup seorang mukmin. Di tengah gempuran sekularisme, materialisme, dan disrupsi digital yang sering kali mendewakan logika materi di atas segalanya, penjagaan terhadap kemurnian akidah menjadi sebuah keniscayaan yang mendesak. Kehidupan modern dengan segala kompleksitasnya sering kali menjebak manusia dalam bentuk-bentuk syirik kontemporer yang halus, di mana ketergantungan pada sebab-sebab material mengaburkan keyakinan pada Sang Musabbibul Asbab. Oleh karena itu, kembali menelaah hakikat tauhid melalui kacamata wahyu merupakan langkah fundamental untuk menjaga integritas spiritual dan intelektual umat Islam.
TEKS ARAB BLOK 1
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ . أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Sumber: Muslimchannel
.png)
.png)