Tauhid bukan sekadar konsep teologis yang bersifat statis, melainkan sebuah dinamika spiritual yang menjadi fondasi eksistensi manusia. Di era modern yang didominasi oleh sekularisme dan materialisme, tantangan terhadap kemurnian tauhid bergeser dari penyembahan berhala fisik menuju penyembahan berhala kontemporer seperti ego, harta, dan ideologi yang menjauhkan makhluk dari Khalik. Memahami tauhid secara komprehensif memerlukan penggalian mendalam terhadap teks-teks otoritatif wahyu guna menemukan relevansi aplikatifnya dalam kehidupan sehari-hari. Esensi dari ketauhidan adalah pengabdian total yang tidak menyisakan ruang bagi dualisme loyalitas antara Tuhan dan kesenangan duniawi yang fana.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-An'am: 82). Dalam tinjauan tafsir, kata al-zulm dalam ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah SAW sebagai syirik, merujuk pada nasihat Luqman kepada anaknya. Keamanan (al-amn) yang dijanjikan dalam ayat ini mencakup keamanan psikologis di dunia dan keamanan dari azab di akhirat. Di era modern, pencampuradukan iman dengan kezaliman sering terjadi dalam bentuk syirik khafi atau kesyirikan yang samar, di mana seseorang merasa bahwa otoritas materi atau kekuatan manusiawi lebih dominan dalam menentukan nasibnya daripada kehendak Allah SWT. Ketidakmurnian tauhid inilah yang memicu kegelisahan eksistensial di tengah kemajuan teknologi.

Sumber: Muslimchannel