Dalam diskursus keislaman kontemporer, menjaga kemurnian tauhid bukan sekadar persoalan teoretis-dogmatis, melainkan sebuah perjuangan eksistensial untuk mempertahankan orientasi ketuhanan di tengah kepungan materialisme dan sekularisme yang kian masif. Dunia modern dengan segala distorsi digital dan pergeseran nilai sosial seringkali menggiring manusia pada bentuk-bentuk penghambaan baru yang bersifat semu. Oleh karena itu, kembali menelaah fondasi tauhid melalui kacamata wahyu dan sunnah menjadi keniscayaan bagi setiap Muslim yang menghendaki keselamatan duniawi dan ukhrawi. Tauhid adalah poros utama yang menentukan kualitas amal dan arah kehidupan seorang hamba. Tanpa tauhid yang kokoh, seluruh bangunan amal akan runtuh bagaikan debu yang beterbangan di terpa angin kencang.
Berikut adalah landasan pertama mengenai hakikat penciptaan manusia yang berorientasi sepenuhnya pada pengabdian kepada Sang Khalik:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
.png)
.png)