Kehidupan manusia di era modernitas saat ini tengah berada dalam pusaran arus materialisme dan sekularisme yang sangat kuat. Fenomena ini tidak hanya menyentuh aspek lahiriah manusia, tetapi juga merambah ke relung paling dalam dari eksistensi seorang mukmin, yaitu akidah. Tauhid bukan sekadar konsep teologis yang bersifat statis, melainkan sebuah energi dinamis yang harus diaktualisasikan dalam setiap tarikan napas dan derap langkah kehidupan. Menjaga tauhid di zaman ini berarti mempertahankan integritas ruhani dari berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah, baik itu penghambaan terhadap harta, jabatan, maupun ego pribadi yang sering kali terselubung dalam kemasan modernitas yang memukau. Sebagai landasan utama, Al-Quran telah memberikan garis tegas mengenai orientasi hidup seorang hamba agar tidak terombang-ambing oleh gelombang zaman.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri. (QS. Al-An'am: 162-163).
.png)
.png)