Dunia hari ini menyaksikan pergeseran otoritas keagamaan dari mimbar-mimbar tradisional menuju layar gawai yang serba cepat. Generasi Z, sebagai penduduk asli digital, berada di garda terdepan dalam mengonsumsi konten keislaman yang tersebar di berbagai platform media sosial. Namun, kemudahan akses ini membawa tantangan serius bagi ketahanan iman dan kedalaman pemahaman agama. Seringkali, agama hanya dipahami melalui potongan video pendek berdurasi enam puluh detik yang mengedepankan aspek emosional ketimbang kedalaman intelektual dan spiritual.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai pemahaman agama yang instan dan fragmatis. Tanpa adanya bimbingan guru secara langsung, Generasi Z rentan terjebak dalam pusaran informasi yang belum tentu sahih. Dalam pandangan Islam, proses mencari ilmu bukan sekadar transfer data, melainkan proses penanaman nilai dan adab. Oleh karena itu, prinsip tabayyun atau verifikasi informasi menjadi sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam fitnah digital yang merusak ukhuwah. Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Sumber: Muslimchannel