Peradaban sebuah bangsa tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia adalah akumulasi dari nilai, etika, dan intelektualitas yang ditanamkan sejak dalam unit terkecil masyarakat, yakni keluarga. Dalam konteks ini, membicarakan peran Muslimah bukan sekadar membahas isu gender yang sering kali terjebak dalam dikotomi sempit antara domestik dan publik. Lebih dari itu, Muslimah adalah arsitek peradaban yang memegang kunci keberlanjutan moralitas bangsa. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa perempuan memiliki kedudukan strategis dalam menggerakkan roda perubahan sosial tanpa harus kehilangan jati diri fitrahnya.

Sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama, Muslimah memikul amanah besar untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara spiritual. Di tangan seorang ibu yang terdidik, lahir para pemimpin yang memiliki integritas tinggi. Namun, peran ini tidak boleh dimaknai sebagai pembatasan ruang gerak. Islam memberikan apresiasi yang setara terhadap setiap amal saleh yang dilakukan, baik oleh laki-laki maupun perempuan, selama hal tersebut berpijak pada keimanan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً