Peradaban sebuah bangsa tidak diukur hanya dari kemegahan beton dan kemajuan teknologi, melainkan dari kedalaman karakter dan kualitas manusia yang menghuninya. Dalam lintasan sejarah Islam, perempuan bukanlah sekadar pelengkap atau entitas yang terpinggirkan, melainkan pilar penyangga yang menentukan kokoh atau rapuhnya tatanan sosial. Muslimah memiliki peran ganda yang strategis, yakni sebagai pendidik utama di ruang domestik sekaligus kontributor aktif di ruang publik yang membawa misi perbaikan moral bagi kemajuan bangsa.

Menempatkan Muslimah sebagai madrasah pertama bagi generasi mendatang bukan berarti membatasi ruang gerak mereka hanya di balik pintu rumah. Justru, ini adalah tugas intelektual dan spiritual yang maha berat karena dari tangan merekalah karakter sebuah bangsa dibentuk. Penyair Hafiz Ibrahim pernah berujar dalam bait syairnya yang masyhur:

الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ