Dalam diskursus keilmuan Islam, niat bukan sekadar lintasan pikiran yang bersifat fakultatif, melainkan pilar fundamental yang menentukan ontologi sebuah amal. Para ulama mutaqaddimin memposisikan niat sebagai pembeda antara rutinitas adat dengan ritus ibadah. Secara epistemologis, niat berakar pada kesadaran transendental seorang hamba dalam mengarahkan orientasi eksistensialnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tanpa niat yang sahih, sebuah perbuatan lahiriah kehilangan ruh spiritualnya dan gagal mencapai derajat maqbul di sisi Al-Khaliq. Mari kita bedah lebih dalam melalui teks-teks otoritatif berikut ini.

Pondasi utama dalam memahami urgensi niat bermula dari hadis yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Hadis ini dianggap sebagai sepertiga dari ilmu Islam karena mencakup seluruh dimensi perbuatan manusia, baik yang bersifat lisan, anggota badan, maupun hati.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sumber: Muslimchannel