JAKARTA – Gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon Selatan memicu gelombang duka sekaligus kecaman internasional. Insiden tragis yang terjadi pada akhir Maret 2026 ini menempatkan sorotan tajam pada eskalasi konflik di perbatasan Lebanon dan akuntabilitas kekuatan militer di wilayah tersebut.

Peristiwa ini bermula pada 30 Maret 2026, ketika dua prajurit TNI gugur akibat ledakan di wilayah Lebanon Selatan. Hanya berselang satu hari, pada 31 Maret 2026, seorang prajurit lainnya dilaporkan meninggal dunia akibat serangan serupa di zona konflik aktif.

Pihak United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menyatakan bahwa ledakan tersebut berasal dari proyektil dengan sumber yang belum diketahui (unknown origin). Mengingat kompleksitas situasi di lapangan, UNIFIL yang membawahi lebih dari 10.000 personel dari 50 negara ini masih melakukan investigasi mendalam sebelum menetapkan pihak yang bertanggung jawab.

Dugaan Kejahatan Perang

Analis geopolitik Eurasia, Fauzan Luthsa, memberikan penilaian keras terhadap insiden ini. Ia menyebut serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian atau peacekeeper tersebut merupakan bentuk kejahatan perang yang dilakukan secara sistematis oleh Israel.

Menurut Fauzan, pola serangan Israel terhadap personel PBB memiliki preseden panjang, mulai dari insiden tahun 1987, tragedi Qana 1996, hingga gugurnya empat personel UNIFIL pada 2006 tanpa ada akuntabilitas yang jelas.

“Ini jelas bukan sekadar insiden teknis, melainkan arsitektur impunitas yang telah dibangun selama empat dekade. Pembunuhan beruntun dalam kurun waktu 24 jam ini membuktikan adanya pola serangan yang disengaja,” tegas Fauzan.

Ia mendesak Pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik konkret, termasuk menuntut sesi darurat Dewan Keamanan PBB. “Jakarta harus memperjelas bahwa kematian tiga prajurit TNI bukan sekadar catatan diplomatik. Israel tidak boleh terus melakukan pelanggaran hukum internasional tanpa konsekuensi hukum yang nyata,” tambahnya.

Representasi Mandat Dunia