JABARONLINE.COM - Dunia aktivisme di Indonesia mendadak diguncang oleh insiden tragis yang menimpa salah satu tokoh penting dalam isu hak asasi manusia. Sosok Andrie Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), kini menjadi sorotan publik setelah mengalami serangan keji.
Serangan tersebut berupa penyiraman cairan yang diduga air keras yang menimpa fisik Andrie Yunus. Peristiwa nahas ini terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.37 WIB.
Lokasi penyerangan berada di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, setelah Andrie Yunus diketahui baru saja selesai mengisi sesi podcast di markas Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Insiden kekerasan ini sontak menimbulkan duka mendalam di kalangan pegiat HAM.
Penyiraman air keras ini tidak hanya meninggalkan luka fisik yang parah bagi korban. Lebih dari itu, kejadian ini memicu kekhawatiran serius mengenai upaya sistematis untuk membungkam suara-suara kritis yang vokal terhadap isu-isu pelanggaran HAM di Indonesia.
Karier Andrie Yunus dalam dunia advokasi hak asasi manusia telah berlangsung lama dan penuh dedikasi. Ia dikenal sebagai pejuang yang konsisten menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi korban-korban pelanggaran HAM di berbagai lini.
Sebelumnya, kiprahnya juga terukir melalui keterlibatannya yang kuat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Perjalanan panjang inilah yang membentuknya menjadi sosok yang disegani dalam perjuangan membela hak-hak masyarakat rentan.
Dilansir dari BisnisMarket.com, peristiwa ini menjadi penanda bahwa risiko pekerjaan para pembela HAM di Indonesia masih sangat tinggi. Serangan semacam ini sering dikaitkan dengan upaya intimidasi terhadap mereka yang vokal.
"Peristiwa tragis ini terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.37 WIB, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, usai Andrie selesai mengisi sebuah podcast di YLBHI," demikian keterangan mengenai waktu dan lokasi kejadian penyerangan tersebut.
Insiden ini menunjukkan bahwa perjuangan tanpa henti untuk keadilan dan HAM masih harus dibayar mahal oleh para aktivis di lapangan. Masyarakat sipil menuntut investigasi tuntas atas serangan yang menimpa Wakil Koordinator KontraS tersebut.
