JABARONLINE.COM - Nama Andrie Yunus, seorang aktivis yang aktif bekerja bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), kini menjadi sorotan utama publik. Sorotan ini muncul setelah ia menjadi korban tindak kekerasan serius di wilayah Jakarta Pusat.
Peristiwa penyerangan ini terjadi pada Kamis malam, tepatnya tanggal 12 Maret 2026. Lokasi kejadian spesifik diketahui berada di area Jalan Salemba I – Talang, sebuah titik yang cukup ramai di ibu kota.
Pelaku penyerangan diduga kuat adalah orang tak dikenal (OTK) yang bergerak cepat. Setelah berhasil menyiramkan zat berbahaya tersebut, pelaku segera melarikan diri dari tempat kejadian perkara tanpa terdeteksi lebih lanjut.
Kabar mengenai insiden dramatis yang menimpa aktivis tersebut mulai menyebar luas dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Informasi ini dengan cepat menarik perhatian masyarakat luas.
Dilansir dari salah satu unggahan di media sosial, insiden ini pertama kali diinformasikan kepada publik pada tanggal 13 Maret 2026. Unggahan tersebut memberikan detail awal mengenai kondisi korban pasca-penyerangan.
Akun Twitter dengan nama pengguna @murtadhaone1 menjadi salah satu sumber awal informasi yang menyebar luas. Akun tersebut mengonfirmasi bahwa Andrie Yunus telah menjadi korban serangan air keras.
"Andrie Yunus menjadi korban serangan air keras dan kini masih menjalani perawatan di rumah sakit," merupakan pernyataan yang disebarkan melalui akun Twitter @murtadhaone1.
Saat ini, Andrie Yunus dilaporkan tengah menerima perawatan intensif di salah satu fasilitas kesehatan menyusul luka yang dideritanya akibat siraman zat kimia tersebut. Kejadian ini diduga memiliki kaitan dengan teror yang dialaminya sebelumnya melalui panggilan telepon misterius.
Peristiwa ini menambah catatan panjang mengenai ancaman yang dihadapi oleh para pejuang hak asasi manusia dan aktivis di Indonesia, memerlukan investigasi mendalam dari pihak berwenang.
