Ilmu akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan Islam yang menuntut keyakinan yang pasti tanpa keraguan sedikit pun. Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama ah, mengenal Allah Swt atau Ma rifatullah bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan pemahaman mendalam terhadap sifat-sifat yang wajib bagi-Nya, yang mustahil bagi-Nya, dan yang jaiz bagi-Nya. Para ulama mutakallimin telah merumuskan sistematisasi sifat dua puluh sebagai metodologi untuk menjaga kemurnian tauhid dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta thil (peniadaan). Pemahaman ini didasarkan pada integrasi antara dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang bersumber dari nalar logis yang sehat. Pengetahuan ini menjadi pintu masuk bagi setiap mukallaf untuk mencapai derajat iman yang hakiki.
PENJELASAN BLOK 1: DEFINISI DAN KLASIFIKASI SIFAT WAJIB
Langkah awal dalam memahami ketuhanan adalah mengerti apa yang dimaksud dengan sifat wajib. Wajib dalam konteks akidah berbeda dengan wajib dalam konteks fiqih. Wajib di sini adalah wajib aqli, yaitu sesuatu yang secara nalar tidak dapat diterima ketiadaannya. Imam al-Sanusi dalam kitabnya yang monumental menjelaskan batasan-batasan ini untuk membedakan antara Sang Pencipta dan makhluk.
.png)
.png)