Tauhid merupakan poros utama dalam bangunan syariat Islam yang melandasi seluruh dimensi kehidupan seorang mukmin. Dalam diskursus teologi Islam, Surah Al-Ikhlas menduduki posisi yang sangat sentral karena ia merangkum hakikat ketuhanan secara padat namun mendalam. Salah satu istilah yang paling krusial dan membutuhkan pembedahan semantik serta teologis adalah kata Ash-Shamad. Istilah ini bukan sekadar atribut biasa, melainkan sebuah proklamasi tentang kemandirian mutlak Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ketergantungan seluruh makhluk kepada-Nya. Para ulama salaf telah mencurahkan perhatian besar untuk menyibak tabir makna di balik kata ini, yang menjadi pembeda antara konsep ketuhanan Islam dengan ideologi teisme lainnya.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.