JABARONLINE.COM - Ketegangan geopolitik kembali memanas di kawasan Karibia menyusul potensi manuver militer dari Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang dikenal juga sebagai pendiri Board of Peace (BoP), dikabarkan memberikan isyarat serius mengenai kemungkinan adanya serangan terhadap Kuba.

Situasi ini datang pada saat Republik Kuba tengah berjuang menghadapi krisis energi domestik yang sangat mengkhawatirkan. Krisis tersebut telah mengakibatkan pemadaman listrik berskala besar yang melumpuhkan aktivitas masyarakat secara luas.

Pemadaman listrik yang terjadi mencakup area yang sangat signifikan, bahkan meliputi dua pertiga wilayah Kuba. Ibu kota negara, Havana, turut merasakan dampak parah dari pemadaman yang terjadi secara berulang ini.

Fasilitas pembangkit listrik utama di negara tersebut mengalami kerusakan serius, menjadi pemicu utama dari bencana energi ini. Kerusakan ini secara langsung memangkas kapasitas pasokan listrik nasional secara drastis.

Menurut informasi yang didapatkan, kerusakan terjadi pada Antonio Guiteras Power Plant, yang merupakan salah satu fasilitas pembangkit listrik terbesar di Kuba. Lokasi strategis pembangkit ini sangat vital bagi distribusi energi di seluruh negeri.

"Pemadaman listrik di Kuba terjadi setelah salah satu fasilitas pembangkit terbesar di negara tersebut, Antonio Guiteras Power Plant rusak," demikian keterangan yang didapatkan dari sumber berita internasional.

Pembangkit Antonio Guiteras memiliki peran krusial dalam menghubungkan jaringan listrik dari ujung barat hingga timur negara tersebut. Fasilitas ini bertanggung jawab memasok energi dari Pinar del Rio di ujung barat negara itu hingga provinsi Las Tunas di timur, dilansir dari Al Jazeera.

Informasi mengenai situasi kritis dan potensi serangan ini dipublikasikan pada hari Jumat, 6 Maret 2026, dilansir dari Al Jazeera. Hal ini menambah lapisan kerentanan bagi Kuba yang sedang berusaha memulihkan infrastruktur energinya.

Situasi ganda antara ancaman asing dan krisis internal ini menempatkan pemerintah Kuba dalam posisi yang sangat sulit untuk merespons kedua tantangan tersebut secara simultan.