JABARONLINE.COM - Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi akan melanjutkan fase koreksi dalam periode waktu dekat. Tekanan jual diperkirakan masih mendominasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat sentimen negatif yang datang dari pasar global.

Kondisi ketidakpastian global menjadi faktor utama yang membebani kinerja rata-rata tertimbang saham di Tanah Air. Investor kini cenderung bersikap defensif menyikapi perkembangan ekonomi dunia yang kian volatil.

Dalam skenario yang lebih pesimistis, para analis pasar memperingatkan adanya potensi pelemahan lebih lanjut. IHSG bahkan bisa saja kembali menghadapi tantangan untuk menguji level psikologis penting berada di angka 7.000.

Hal ini akan terjadi jika dinamika eksternal terus memberikan beban signifikan terhadap sentimen investasi domestik. Pasar seolah bergerak mengikuti irama kekhawatiran yang muncul di kancah internasional.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menyoroti sensitivitas pasar saat ini terhadap berbagai isu global yang sedang berkembang. Pasar modal Indonesia dinilai sangat rentan terhadap gejolak dari luar negeri.

"Pasar saat ini sangat sensitif terhadap berbagai perkembangan global, terutama kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi serta berpotensi menahan langkah bank sentral dalam melonggarkan kebijakan moneter," kata Hendra Wardana.

Kenaikan harga komoditas energi di pasar dunia menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran investor. Hal ini secara langsung berdampak pada proyeksi inflasi yang berpotensi meningkat tajam.

Inflasi yang tinggi, menurut pengamat, dapat memaksa otoritas moneter untuk menahan diri dari pelonggaran kebijakan suku bunga. Kebijakan yang ketat ini tentu akan berdampak pada likuiditas dan kinerja korporasi.

Kekhawatiran mengenai inflasi global ini, dilansir dari Beritasatu.com, menjadi penghalang utama bagi pasar saham untuk kembali bergerak positif secara berkelanjutan. Investor mencari aset yang lebih aman.