JABARONLINE.COM - Fenomena kesehatan masyarakat di Indonesia kini menghadapi tantangan serius seiring dengan perubahan pola penyebab kematian utama. Tren terbaru menunjukkan adanya pergeseran signifikan dari ancaman penyakit menular ke penyakit tidak menular yang kian mendominasi.

Perubahan mendasar ini, menurut pandangan akademisi, sangat erat kaitannya dengan minimnya aktivitas fisik dalam rutinitas harian masyarakat modern. Gaya hidup yang cenderung sedentari atau kurang gerak menjadi akar permasalahan yang membuka pintu bagi berbagai penyakit kronis.

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Didi Sukyadi, menyoroti secara spesifik dampak negatif dari tren gaya hidup yang tidak sehat ini terhadap harapan hidup masyarakat. Ia menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari kesadaran individu.

Saat memberikan keterangan di Gedung Isola UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, pada hari Jumat, 6 Maret 2026, Didi memaparkan data mengenai jenis penyakit yang kini paling sering merenggut nyawa.

"Kematian pada manusia bisa disebabkan penyakit menular dan tidak menular. Penyebab kematian saat ini telah bergeser, kebanyakan yang tidak menular, termasuk obesitas, diabetes hingga darah tinggi," ujar Didi Sukyadi.

Ia melanjutkan bahwa penyakit-penyakit kronis tersebut merupakan gerbang menuju komplikasi yang lebih berbahaya dan mengancam jiwa secara mendadak. Hal ini menjadi perhatian utama bagi institusi pendidikan kesehatan seperti UPI.

"Dari sana akan muncul gejala penyakit turunan bisa stroke, bisa serangan jantung," kata Didi Sukyadi, menekankan risiko fatalitas dari penyakit tidak menular yang diabaikan.

Rektor UPI tersebut menegaskan bahwa akar dari munculnya penyakit degeneratif tersebut bersumber dari kebiasaan sehari-hari yang kurang baik.

"Itu bisa terjadi dikarenakan pola hidup dan jarang olahraga," tambahnya, merujuk pada minimnya kesadaran untuk berolahraga secara teratur.