JABARONLINE.COM - Keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) untuk periode Maret 2026 menunjukkan konsistensi dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level yang sama seperti periode sebelumnya.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai proyeksi ekonomi domestik dan global yang dihadapi Indonesia saat ini. Stabilitas nilai tukar Rupiah menjadi salah satu fokus utama dalam penentuan arah suku bunga ke depan.
Menurut keterangan resmi, kebijakan suku bunga ini dirancang untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target yang ditetapkan oleh otoritas moneter. Bank Indonesia terus memantau dinamika risiko yang mungkin muncul dari ketidakpastian global.
"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, dalam sebuah pernyataan resmi.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pandangan Bank Indonesia bahwa kondisi suku bunga saat ini masih sejalan dengan upaya pengendalian inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Keputusan ini berlaku efektif untuk periode kebijakan moneter selanjutnya.
Lebih lanjut, Perry Warjiyo juga menyampaikan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga acuan tersebut sejalan dengan upaya menjaga daya tarik investasi di pasar keuangan domestik. Hal ini penting untuk mendukung stabilitas makroekonomi jangka menengah.
"Ke depan, kebijakan moneter akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan pengendalian inflasi sejalan dengan sasaran inflasi tahun 2026," kata Perry Warjiyo, menegaskan arah kebijakan ke depan.
Adapun, Bank Indonesia juga mengisyaratkan bahwa langkah suku bunga akan dievaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan data ekonomi terbaru. Mereka tetap waspada terhadap potensi gejolak eksternal yang bisa mempengaruhi pergerakan Rupiah.
Keputusan ini, dilansir dari sumber berita terkait, menunjukkan pendekatan kehati-hatian BI dalam menavigasi lanskap ekonomi yang penuh tantangan di tahun 2026. Stabilitas menjadi prioritas utama dibandingkan stimulus suku bunga agresif.
