JABARONLINE.COM - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kebijakan moneter ke depan akan difokuskan pada menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai risiko eksternal yang berpotensi mempengaruhi perekonomian domestik.

Keputusan untuk menahan suku bunga acuan ini merupakan langkah kehati-hatian agar tekanan dari luar negeri tidak serta merta menekan stabilitas makroekonomi Indonesia. BI terus memantau perkembangan suku bunga acuan bank sentral utama dunia yang dapat memicu arus modal keluar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan pandangan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melonggarkan kebijakan moneter. Fokus utama adalah memastikan bahwa inflasi tetap terkendali dan nilai tukar Rupiah tetap stabil dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global.

"Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan Kebijakan Stance dengan mempertahankan BI-Rate sebesar 6,25 persen," ujar Perry Warjiyo.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa bank sentral masih melihat perlunya suku bunga yang cukup tinggi untuk memberikan daya tarik investasi dan meredam potensi depresiasi Rupiah. Kebijakan suku bunga yang stabil ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi pelaku pasar.

Perry Warjiyo juga menekankan bahwa langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya pencegahan risiko yang mungkin timbul akibat ketidakpastian global. Bank sentral sangat memperhatikan sentimen pasar dan pergerakan mata uang di kawasan regional.

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini bahwa kebijakan suku bunga yang akomodatif ini masih tetap mendukung pertumbuhan ekonomi, namun dengan tetap memprioritaskan stabilitas," kata Perry Warjiyo.

Situasi global, termasuk potensi kenaikan suku bunga di negara maju, menjadi faktor pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia. Hal ini dilakukan demi menjaga fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Lebih lanjut, Gubernur BI menegaskan komitmen penuh untuk terus menguatkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Tujuannya adalah memastikan bahwa stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga efektif.