JABARONLINE.COM - Pasar keuangan dunia tengah menghadapi periode ketidakpastian yang signifikan, ditandai dengan peningkatan volatilitas yang mencolok. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor makroekonomi yang saling terkait di panggung global.

Salah satu pemicu utama ketidakstabilan ini adalah melonjaknya harga komoditas energi, khususnya minyak mentah. Kenaikan harga minyak seringkali menjadi indikator inflasi yang harus diwaspadai oleh investor.

Selain itu, kekhawatiran yang terus membayangi sektor kredit juga turut menekan sentimen risiko di berbagai instrumen investasi. Sektor kredit yang menunjukkan tanda-tanda tekanan dapat memicu penarikan dana dari aset-aset yang dianggap berisiko.

Meskipun tekanan pasar tampak kuat pada berbagai aset berisiko lainnya, mata uang kripto utama, Bitcoin, menunjukkan performa yang relatif kuat. Aset digital ini berhasil menjaga momentum positifnya selama periode turbulensi tersebut.

Secara spesifik, Bitcoin masih mampu mempertahankan posisinya yang signifikan, yakni bertahan kokoh di atas level psikologis US$ 71.000. Ini menunjukkan adanya tingkat kepercayaan tertentu dari investor terhadap mata uang kripto tersebut.

Berdasarkan pembaruan data terkini dari Coin Market Cap pada pagi hari ini, Jumat (13/3/2026) pukul 09.45 WIB, harga Bitcoin tercatat berada di angka US$ 71.199. Angka ini mencerminkan apresiasi yang cukup baik dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Data tersebut juga mengindikasikan bahwa Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 2,47% selama periode 24 jam sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi pasar yang umumnya menunjukkan tekanan jual pada aset berisiko lainnya.

Pergerakan harga ini menjadi menarik karena terjadi di tengah kekhawatiran yang meluas di pasar finansial internasional, seperti yang tampak pada pagi hari ini, dilansir dari Beritasatu.com.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Beritasatu. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.